JAKARTA, VOICEMAGZ.com – Pertunjukan bertajuk “Growth: Growing into RAFA, Our Way Through Heritage” yang digelar oleh RAFA International Dance Studio di Teater Besar, Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, pada Sabtu, 18 Juli, berhasil mencuri perhatian dengan konsepnya yang unik.
Mengusung tema Nusantara, pementasan ini berani mengawinkan teknik tari internasional seperti ballet, jazz, dan hip hop dengan kekayaan budaya Indonesia.
Head Program RAFA, Felicia Chitra, menceritakan bagaimana rumitnya menyusun 27 tarian yang melibatkan 250 penari dengan gaya yang berbeda-beda.
“Ada yang menari jazz dengan lagu ‘Tokecang’. Jadi kayak aneh tapi mereka ternyata seru gitu. Kami mengangkat tema Nusantara ini karena ingin anak-anak tetap tampil global tanpa lupa asal mereka,” kata Felicia kepada awak media seusai pementasan.
Sementara Tiara selaku Sekjen Yayasan Raya Budaya melihat potensi besar dalam gaya tari di dalam pagelaran ini. Salah satu yang menarik adalah bagaimana unsur-unsur tradisional disisipkan ke dalam gerakan modern tanpa menghilangkan esensinya.
“Tariannya ada ballet, gym dance, jazz, dan hip hop. Ini yang lagi disukai anak-anak generasi sekarang. RAFA bisa mengemas budaya Nusantara kita dengan cara yang menyentuh hati mereka,” ujar Tiara.
“Contohnya di kelas hip hop ada yang mau pakai unsur Papua. Itu enggak cuma baju doang, tapi gerakan hip hop yang dipadukan dengan gerakan tarian Papua,” sambungnya.
Tak hanya Papua, tarian dari daerah lain di Indonesia seperti Maluku pun turut ditampilkan dengan cara yang baru.
“Ada tariannya dari Maluku yang pakai sapu tangan dua, namanya Tari Lenso. Kita terinspirasi dari daerah yang mungkin kurang terekspos dan kita coba gali kembali dalam pagelaran ini,” tambah Tiara lagi.
Adapun proses kreatif gelaran ini diakui Nevine Rafa Kusuma, Founder RAFA, sebagai bentuk kegelisahan terhadap minimnya minat akan tradisi budaya Indonesia di kalangan anak muda.
Berkaca dari fenomena Korean Pop (K-pop) di Korea Selatan, Nevine merasa Indonesia juga mampu menghadirkan Indonesian Pop (I-pop) yang diminati masyarakatnya sendiri.
“Kenapa sukanya K-Pop tapi enggak ada I-Pop? Itu menjadi kekhawatiran kami, sehingga pagelaran ini semua ceritanya kita buat untuk mengenalkan tradisi lewat tarian modern,” pungkas Nevine./Eds. Foto: Istimewa.






