Bagus Dan Tidaknya Sebuah Karya Musik Itu Soal Selera Individu

by -131 views

Oleh: Irish Blackmore

Jakarta, Voicemagz.com-Melalui rubrik ini,  saya  hanya akan mengulas  sedikit saja  tentang   selera musik menurut perspektif saya. Sebab bagus dan tidaknya sebuah karya musik itu tergantung dari selera siapa yang mendengarnya. Jadi soal selera  musik itu menurut saya merupakan ranah   yang sangat pribadi dari lubuk hati yang paling dalam pendengarnya.

Kenapa demikian?, ya saya  melihat dari sudut pandang saya  sendiri bahwa kesukaan seseorang terhadap salah satu jenis musik itu sangat pribadi. Atau orang sering  menggambarkan seperti seorang pria yang menyukai type wanita untuk dijadikan sebagai istrinya, atau bisa juga sebaliknya.

Ada orang yang begitu  fanatik dengan salah satu genre musik tertentu, terkadang saking fanatiknya sampai muncul justifikasi terhadap genre musik lainnya. Contohnya sangat sederhana, seseorang yang fanatik terhadap jenis musik rock misalnya, maka ia terkadang susah untuk mendengarkan kemudian menyukai  musik dengan genre lain.Bahkan terkadang cendrung beranggapan bahwa selain genre musik  yang disukainya dianggap dibilang jelek, rendahan,  norak atau bahkan  kampungan.

Begitu juga dengan seseorang yang sudah terlanjur gandrung dengan genre musik tertentu seperti musik klasik, pop, dangdut, jazz, kroncong, dangdut atau yang lainnya,  pada umumnya mereka sulit untuk bisa menyukai genre musik yang berbeda, atau tidak menarik buat mereka.

Namun hal demikian ini tentu tidak bisa dipukul rata dan berlaku untuk semua orang. Sebab banyak juga orang yang memang menyukai segala jenis musik. Alasannya juga terkadang sangat sederhana, yaitu  yang penting enak didengar dan sesuai dengan selera hati dan pikirannya, dan sesuai pula dengan  situasi dan kondisi yang mendengarkan.

Dari uraian diatas, maka menurut saya sejatinya kesukaan seseorang terhadap musik itu urusan selera. Tidak bisa seseorang memaksakan kehendaknya terhadap orang lain untuk menyukai musik yang sama dengannya. Begitu juga sebaliknya,  tidak ada orang yang bisa memaksa orang lain untuk tidak menyukai musik yang menjadi pilihannya.

Banyak hal yang mendasari seseorang menyukai musik, dan satu sama lain belum tentu sama. Ada orang  yang benar benar menyukai salah satu genre musik sampai mengamati komposisi, notasi, skil permainan lirik lagu, dan bahkan sampai detil ke soal sound dan lain lain.

Tetapi ada  juga  yang menyukai  salah satu genre musik hanya  berangkat dari hal-hal yang sederhana, misalnya karena penyanyinya cantik atau ganteng, ada juga karena lirik lagunya sesuai dengan perasaanya saat itu (misalnya sedang jatuh cinta, ditinggal kekasih, sedang bersenang-senang, atau sedang tertimpa musibah), atau karena aksi  panggungnya yang mempesona,  dan lain lain.

Jadi, dari sekilas uraian diatas sudah bisa disimpulkan bahwa suka dan tidaknya dengan sebuah karya musik,  bagus dan tidaknya sebuah karya musik, enak dan tidaknya sebuah karya musik,  tergantung dari selera pribadi masing-masing.

Namun demikian, tidak menutup mata, bahwa pada kenyataanya ada saja orang yang menganggap atau bahkan menjustifikasi  orang lain lebih rendah darinya, hanya karena secara musiknya berbeda atau   tidak selaras dengan selera dirinya.

Misalnya  orang yang menyukai musik rock, heavy metal atau yang sejenisnya dianggap urakan. Kemudian orang  yang menyukai musik dangdut dianggap kampungan. atau orang  yang menyukai musik kroncong dianggap kuno dan lain lain.

Jika kita sadar bahwa selera musik seseorang  itu semacam hak prerogatif, tentu hal yang demikian sebetulnya tidak perlu terjadi, sebab  menurut saya  kesukaan seseoarng terhadap musik itu disadari atau tidak,  timbul dari lubuk hati yang paling dalam pendengarnya.  Kemudian ditambah lagi suasana pikiran dan perasaan seseorang juga  berbeda-beda, jadi hal yang demikian memungkinkan orang untuk berbeda selera atau  pilihan musiknya.

Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah, apakah kalau musik yang disukai seseorang  itu dianggap kampungan atau rendahan terus orang tersebut akan  bisa dengan gampang move on dari musik yang disukainya kemudian berganti dengan  genre musik lain?.

Tentu   tak semudah itu,  bahkan tidak mungkin, karena yang terjadi adalah pura-pura menyukai musik  yang sejatinya dirinya sendiri  tidak suka. Apalagi  jika tujuannya   hanya agar dirinya  tidak  dibilang kampungan, norak atau yang lain. Namun demikian, tak bisa dipungkiri bahwa ada juga orang yang  ikut ikutan saja dengan selera orang lain, dengan tujuan agar dibilang gaul.

Jadi kesimpulan akhirnya adalah, selera musik seseorang itu adalah ranah pribadi dari lubuk hati terdalam dari masing masing individu, apapun jenis musik yang disukainya. Orang boleh saja  menganggap bahwa musik yang dibuatnya dan dimainkannya atau yang disukainya adalah yang terbagus. Tetapi jangan lupa bahwa  orang lain juga punya hak  untuk tidak menyukainya atau bahkan  mengatakan musiknya  itu tidak bagus, kenapa demikian?. Tentu jawabannya karena musiknya  tidak sesuai dengan selera hatinya.

Oleh karena itu,  bagus atau tidaknya sebuah karya musik sangat tergantung selera dan cara pandang masing masing individu. Tak satupun yang dapat memaksakan kehendak orang lain untuk menyukai musik yang sama dengan yang disukainya.

Bagus dan tidaknya sebuah karya musik penilaiannya sangat universal, masing masing berbeda. Yang terbaik adalah menghargai perbedaan, tak perlu menganggap orang lain lebih rendah, atau dirinya lebih tinggi hanya karena perbedaan selera musiknya. Selera musikmu dalah seleramu, tidak bisa dipaksakan untuk disukai oleh orang lain.

Jika kita sadar, perbedaan selera musik justru membuat masing-masing genre bisa bisa tetap tumbuh dan  berkembang dengan baik, karena tetap memiliki penggemarnya masing-masing, kapan dan dimana saja.

Tulisan saya ini  boleh saja dianggap salah dan tidak berdasar. Namun perlu di garis bawahi bahwa ini merupakan  pendapat pribadi saya, bukan menurut pendapat orang lain.

Jadi kalau ada yang menyangkal dengan berbagai argumen secara akademik dengan menggunakan berbagai parameter penilaian juga silahkan saja. Sebab apa yang saya  sampaikan bukan bicara penilaian baku, juga bukan merupakan  sebuah bentuk  penghakiman terhadap karya musik.

Jika pembaca berbeda pendapat dengan apa yang saya  sampaikan tentulah hal yang wajar dan sangat mungkin. Tetapi jika ada yang  sama dengan dengan pemikiran saya, tentulah bukan sebuah kebetulan, karena yang hal ini benar terjadi di masyarakat.

Sikap terbaik kita adalah menghormati perbedaan, jangan mudah membuat penghakiman tentang baik buruk  sebuah karya musik itu berdasarkan perspekif diri. Buruk bagimu, belum tentu buruk bagi orang lain, baik bagimu belum tentu baik bagi orang lain. Biarkan masing-masing orang menyenangi genre musiknya, agar setiap  genre musik  itu bisa terus tumbuh, berembang dan tetap lestari, karena  degemari oleh masyarakat./Foto Ilustrasi: gigsplay.com