JAKARTA, VOICEMAGZ.com – Di sebuah ruang yang dipenuhi aroma kopi dan percakapan serius, diskusi tentang horor berubah menjadi refleksi masa depan sinema nasional.
Ya.. diskusi Forum Film Horror (FFH) edisi ketiga sedang mengangkat tema ‘Pengaruh Film Horor Korea di Indonesia’ yang menghadirkan perbincangan yang tak sekadar membahas tren, tetapi juga menyoal arah dan kualitas industri.
Dipandu Irfan Handoko, forum yang digelar Jumat (13/2) ini menghadirkan sejumlah nama senior di dunia perfilman: Toto Hoedi, Herty Purba dari Heart Pictures, serta Nanang Istiabudi.
Mereka duduk membedah satu pertanyaan kunci: mengapa film horor Korea Selatan begitu deras masuk ke Indonesia dan mengapa penonton begitu mudah menerimanya?
Menurut Nanang Istiabudi, perubahan terbesar justru datang dari penonton. Jika dulu horor cukup menghadirkan sosok menyeramkan dan suara mengejutkan, kini audiens menuntut bangunan cerita yang kokoh dan atmosfer yang terjaga.
Film seperti ‘Train to Busan’ dan ‘The Wailing’ disebut sebagai contoh bagaimana horor Korea menggabungkan teror dengan logika dramatik yang rapi. Visual digarap serius, poster dirancang sebagai identitas estetika, dan konflik dibangun perlahan hingga klimaks terasa masuk akal.
“Penonton sekarang membaca film dengan lebih tajam. Mereka membandingkan, mereka menilai,” ujar Nanang seraya menambahkan jika literasi visual yang meningkat membuat standar ikut naik.
Diskusi pun mengerucut pada perbedaan pendekatan antara horor Indonesia dan Korea. Di Korea, elemen supranatural kerap berjalan berdampingan dengan realitas medis dan rasional. Luka tetap dibawa ke rumah sakit, investigasi tetap dilakukan aparat, dan misteri tetap diberi ruang logika.
Sebaliknya, horor Indonesia sering sepenuhnya bertumpu pada penyelesaian mistis, dimana dukun, ritual, dan mantra menjadi simpul akhir cerita.
Ini bukan soal benar atau salah, tetapi pendekatan ini memengaruhi rasa dan kredibilitas di mata penonton modern.
Toto Hoedi menilai, sineas lokal perlu mulai menjembatani dunia gaib dan dunia rasional agar cerita terasa lebih relevan tanpa kehilangan akar budaya.
Sedangkan Herty Purba menyoroti faktor di balik layar: dukungan ekosistem. Di Korea Selatan, industri kreatif mendapat fasilitasi serius dari pemerintah, mulai dari kemudahan izin lokasi hingga infrastruktur produksi.
“Ketika kampus, rumah sakit, hingga ruang publik bisa diakses dengan sistem jelas, energi kreatif tidak habis di administrasi,” ujarnya.
Bandingkan dengan realitas di Indonesia, di mana perizinan kerap berbelit dan biaya tinggi menjadi tantangan tersendiri.
Diskusi ini menegaskan bahwa kualitas bukan hanya soal ide, tetapi juga soal sistem yang menopang produksi.
Forum ini pun tak berhenti pada kekaguman. Ia menjadi ruang refleksi. Praktik produksi kilat sepuluh hari yang masih terjadi dinilai perlu ditinjau ulang.
Riset urban legend perlu digarap lebih dalam, pendekatan psikologis perlu diperkuat, dan eksplorasi genre, termasuk monster atau zombie perlu dilakukan tanpa tercerabut dari identitas lokal.
Horor, kata para pembicara, bukan sekadar membuat penonton terkejut. Ia tentang membangun atmosfer, merawat ketegangan, dan menciptakan pengalaman yang terasa nyata.
Sebagai penutup forum, diumumkan hasil penilaian Dewan Juri FFHoror untuk periode tayang 13 Januari–13 Februari 2026.
Dewan juri diketuai Ncank Mail bersama Satria Sabil, Rio Apriciandhito, Nuty Sri Laraswaty, Dandung P. Hardoko dan D Novriansyah.
Film Terhoror diberikan kepada ‘Setan Alas’ yang dinilai berhasil meramu ketegangan dengan selera penonton masa kini.
Sutradara Terbaik diraih Yusron Fuady.
Aktor Terbaik dianugerahkan kepada Rangga Azof melalui perannya dalam ‘Kafir Gerbang Sukma’. Aktris Terbaik diraih Putri Ayudia lewat film yang sama. Sementara kategori Tata Gambar (DOP) diberikan kepada Awank JJ untuk film Dowa Ju Seyo.
Kembali pada diskusi, walau berakhir tanpa kesimpulan tunggal tetapi dengan satu kesadaran bersama: horor Indonesia tak boleh puas menjadi pasar. Ia harus menjadi pemain.
Dari Korea, industri belajar tentang profesionalisme dan presisi. Dari akar budaya sendiri, sineas menjaga ruh dan identitas.
Sebab pada akhirnya, horor terbaik bukan hanya yang membuat penonton menjerit, melainkan yang membuat mereka percaya. (NVR)






