JAKARTA, VOICEMAGZ.com – Dalam suasana penuh semangat dan harapan, MAD Fest Merah Putih Festival Film Pendek Tahun 2026 secara resmi diluncurkan di Gedung Pusat Perfilman Haji Usmar Ismail, Kuningan, Jakarta Selatan.
Acara yang menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Buruh Internasional ini dihadiri oleh berbagai tokoh seni, insan kreatif, serta diresmikan langsung Menteri Ketenagakerjaan Republik Indonesia, Profesor Yasierlli, PH.D., yang hadir didampingi oleh Direktur Jenderal Pembinaan Hubungan Industrial Dan Jaminan Sosial Ketanagakerjaan Ibu Dr. Endang Anggoro Putri, M. Bus.
Hal ini merupakan awal yg baik bagi penyelenggaraan MADFEST MERAH PUTIH FESTIVAL FILM PENDEK KLAS PEKERJA 2026, untuk melangkah kedepan diapresiasi oleh Pemerintah khususnya Kemenaker RI menuju transportasi ruang aspirasi masyarakat klas pekerja dan sejenisnya melalui ruang digital film pendek inspiratif aktratif menghibur publik oleh para pekerja kreatif dan perfilman nasional.
Melalui media film pendek yang disajikan secara inspiratif, menarik, dan menghibur, kegiatan ini menjadi sarana bagi para pekerja kreatif dan pelaku perfilman nasional untuk menyampaikan gagasan dan kisah yang mencerminkan realitas kehidupan mereka.
“MAD Fest Merah Putih memiliki makna yang mendalam yang artinya MAD Fest merupakan singkatan dari May Day Festival, yang diambil dari peringatan Hari Buruh Internasional yang jatuh pada tanggal 1 Mei hari ini, Merah Putih melambangkan semangat kebangsaan yang sekaligus mengaitkan kegiatan ini dengan perayaan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus mendatang” ungkap Ketua Panitia Penyelenggara Mad Fest Festival Film Pendek 2026 H. Sonny Pudjisasono, S.H., MBA..
Penjelasan ini disampaikan secara langsung dalam acara untuk menjawab pertanyaan yang disampaikan oleh Menteri Ketenagakerjaan terkait latar belakang dan makna penyelenggaraan kegiatan tersebut.
Artis senior sekaligus pendiri dan deklarator Serikat Pekerja Kreatif Perfilman Indonesia (SPKPFI), Paramitha Rusady, menyampaikan testimoni kesaksian dan pandangannya mengenai kondisi yang dihadapi oleh para pelaku di industri perfilman.
Dalam perjalanan karirnya, ia mengungkapkan bahwa masih terdapat berbagai hal yang dirasa kurang menguntungkan atau tidak adil bagi para pekerja kreatif.
“Berdasarkan informasi yang beredar dan dilaporkan di berbagai media, banyak temuan bahwa pekerja kreatif baik kru produksi maupun artis—yang menghadapi kesulitan ekonomi di masa tuanya, meskipun karya-karya yang mereka hasilkan masih terus diputar dan dinikmati masyarakat hingga saat ini,” kataParamitha.
Kondisi inilah yang melatarbelakangi berdirinya SPKPFI, yang berperan sebagai wadah advokasi, penampungan aspirasi, dan sarana perjuangan untuk memperjuangkan hak-hak serta kesejahteraan seluruh pekerja kreatif di bidang kreatif dan perfilman.
Di bawah kepemimpinan Ketua Umum DR. Gede Sandra SPKPFI dipastikan akan menjadi garda terdepan dalam memperjuangkan kepentingan dan kesejahteraan anggotanya.
Dalam wawancara dorstop Menteri Tenaga Kerja Republik Indonesia, Prof. Yasierlli, PH.D., menyampaikan
“Saya melihat industri perfilman adalah salahsatu hal yang penting untuk kemajuan bangsa, dan saya juga melihat industri perfilman pendek industri kreatif ini merupakan salah satu juga yang akan tumbuh besar dimasa yang akan datang dan sangat cocok sepertinya dengan apa yang dicari oleh Gen Z kita sesuatu yang kreatif mereka bisa mengekspresikan dirinya dan saya akan support dan saya yakin industri ini harus maju dan sebagai salah satu bentuk majunya Indonesia kedepan” ucapnya.
Sementara itu dalam kesempatan yang sama DR. Gede Sandra mengatakan,
“Kita berharap bahwa SPKPFI ini bisa membantu meningkatkan kesejahteraan terutama bagi artis artis yang sedang kesusahan dan juga tentu untuk meningkatkan jaminan sosial untuk mereka, karena kita tahu bahwa profesi sebagai artis dan pekerja kreatif itu juga memiliki banyak resiko, seperti resiko kecelakaan, resiko kematian, dan juga mungkin resiko kemiskinan dimasa depan jadi kita sebisa mungkin untuk bagaimana membantu meringankan beban dari artis ini semoga target kita satu tahun atau bahkan kurang dari satu tahun kita bisa membantu pemerintah untuk menyalurkan kebijakan yang melindungi ini” katanya.
Ia juga menambahkan “Seluruh kru filem seluruh pekerja filmnya sutradara produser nya artisnya pokoknya seluruh ekosistem dunia perfilman itu masuk kedalam jaminan sosial dan jaminan kesejahteraan ini” lanjut Gede Sandra.
Selain menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Buruh Internasional, kegiatan ini sekaligus memperingati genap satu tahun berdirinya Serikat Pekerja Kreatif Perfilman Indonesia.
Perayaan syukur potong kue oleh Paramitha Rusady menjadikan simbol kebersamaan dalam ikhtiar perjuangan para pekerja kreatif dalam upaya memperkuat sinergitas.
Acara yang dipandu oleh pembawa acara kreatif Mas Toto Soegriwo, berlangsung dengan tertib, lancar, dan diisi dengan berbagai rangkaian kegiatan yang mencerminkan semangat kebersamaan dan kreativitas para pelaku seni dan pekerja kreatif Indonesa./Ib.






