AKSI Inisiasi Pembuatan Platform Digital Direct License (DDL) untuk Mewadahi Penerimaan Royalti Para Pencipta Lagu

oleh
oleh

JAKARTA, VOICEMAGZ.com – Para pencipta lagu atau komposer yang tergabung dalam wadah AKSI (Asosiasi Komposer Seluruh Indonesia) terus bergerak mencari keadilan dalam hal pengelolaan royalty para pencipta lagu.

 

Kelompok AKSI yang awalnya di inisiasi oleh Ahmad Dhani, Piyu Padi, Rieka Roslan, Badai dan sejumlah komposer termana lainnya ini   sepakat  satukan tekad untuk membuat platform Digital Direct License (DDL) untuk mewadahi penerimaan hak royalti para pencipta lagu, khususnya mereka yang tergabung di AKSI

 

Menurut mereka lisensi langsung dipandang sebagai jawaban atas kendala-kendala yang muncul dari sistem blanket license (pemberian lisensi kepada banyak pihak), yang cenderung tidak memberikan keadilan finansial bagi pencipta lagu.

 

Dalam praktik lisensi langsung, penyanyi membayar royalti secara langsung kepada pencipta lagu sesuai dengan kesepakatan bersama.

 

Piyu Padi selaku ketua AKSI berharap agar  proses ini dapat memberikan keuntungan lebih besar, lebih cepat, dan lebih transparan bagi pencipta lagu. Yang terpenting, model pembayaran langsung ini dianggap lebih “memanusiakan” para kreator, mengingat jumlah royalti yang diterima akan jauh lebih signifikan dibanding sistem blanket license yang biasa diterapkan lembaga pemungut royalti.

 

“Sistem Direct License ini dirasa sangat efektif, efisien, tepat sasaran dan hasil royaltinya dapat dirasakan langsung oleh penciptanya. Sistem Direct License ini sudah di jalankan di beberapa negara dengan terlebih dahulu melakukan Option Out untuk royalti live performance dari Lembaga Manajemen kolektif (LMK). Platform DDL ini real time, komposer bisa langsung mendapatkan royalti mereka saat penyanyi sudah melakukan perizinan. Nominal royalti yang ditetapkan juga tak sembarangan, merujuk pada royalti digital sebanyak 10 persen.” kata Piyu di Jakarta, pada Senin (20/05/24).

 

Lebih lanjut Piyu menambahkan, “Di Amerika Serikat, praktik itu diterapkan melalui sistem yang dikenal sebagai direct deals antara pencipta lagu dan penyanyi. Pencipta lagu, baik individu maupun perusahaan penerbit musik, dapat menjalin kesepakatan langsung dengan penyanyi atau produser rekaman tanpa melibatkan lembaga pemungut royalti. Dalam kesepakatan ini, pembayaran royalti disepakati dengan persentase tertentu berdasarkan pendapatan yang dihasilkan dari karya tersebut,” lanjutnya.

 

Sebagai gambaran, selain Amerika, Digital Direct License  ini juga sudah diterapkan di beberapa negara Eropa, seperti Inggris, Prancis, dan Jerman, dengan  mengadopsi pendekatan serupa. Di negara-negara itu, para pencipta lagu dan pemusik dapat membuat kesepakatan langsung dengan pihak yang menggunakan karyanya, sehingga mereka punya kendali lebih besar atas hak ciptanya.

 

Hasil penerapan model lisensi langsung ini dapat terlihat dalam peningkatan pendapatan yang diterima para pencipta lagu. Mereka dapat mengamankan pembayaran royalti dan memiliki kontrol yang lebih besar terhadap penggunaan karya mereka.

 

Pakar hukum Hak Cipta sekaligus juga merupakan Guru Besar di Universitas Indonesia yang juga turut hadir dalam acara tersebut menyebut bahwa apa yang dilakukan AKSI ini tidak bertentangan dengan UU No 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta.

 

“Apa yang menjadi keinginan dari kawan-kawan AKSI ini sudah selaras dengan UUHC, jadi tak ada yang ditabrak oleh mereka. Yang perlu diingat bahwa meski ada yang mencuriagai,  AKSI ini meski memperjuangkan royalty tidak akan pernah menjadi LMK,” kata Agus Sardjono.

 

Agus Sardjono pun memberikan masukan agar kawan-kawan AKSI kedepan bisa membangun sistem yang adil dan berkeadilan.

” Saya hanya bisa menyarankan kepada teman-teman AKSI, agar kedepan bisa Membuktikan kepada dunia bahwa pencipta lagu  bisa membangun sistem yangg lebih adil, akuntabel, dan transparan,” sambung Agus Sardjono.

 

Seiring dengan perkembangan teknologi, negara-negara ini terus memperbarui dan menyesuaikan model lisensi langsung mereka untuk menjawab dinamika industri musik yang terus berubah. Kesuksesan ini dapat memberikan inspirasi dan bahan pembelajaran bagi Indonesia dalam merumuskan sistem pembayaran royalti yang lebih efektif dan berkeadilan.

 

Platform Digital Direct License (DDL) tentunya akan  terus disempurnakan, jadi  belum secara resmi di publish.

“DDL ini memiliki standarisasi perhitungan, jadi pencipta lagu tidak akan menentukan harga seenaknya. Selain itu, AKSI juga menegaskan bahwa pihaknya tak akan mengambil keuntungan dari platform ini. Mereka hanya ingin mewadahi pencipta lagu untuk mendapatkan haknya.” pungkas Piyu./Ib

 

 

No More Posts Available.

No more pages to load.