BCL Dan Garin Nugroho Suguhkan Pesan Moral Dalam Film “Moon Cake”

oleh
oleh

Jakarta, Voicemag.com. Film drama garapan sutradara Garin Nugroho berjudul “Moon Cake Story “ per tanggal 23 Maret nanti akan mulai diputar di 92 bioskop XXI diseluruh Indonesia.

Film persembahan Tahir Foundation dan Multi Vision Plus (MVP) ini bukan tontonan biasa, lebih dari itu menurut sang sutradara film Moon Cake ini memberikakan tuntunan untuk berbuat kebaikan. Karena didalamnya berisikan pesan moral yang sangat dalam.

“ Film Moon Cake Story bercerita tentang pertemuan dua orang yang berasal dari dua kelas sosial berbeda. Yaitu Asih yang diperankan oleh Bunga Citra Lestari (BCL) dan Morgan Oy yang berperan sebagai David yang kemudian saling menemukan arti kehidupan diantara mereka, hingga akhirnya muncul masalah atau persoalan masing-masing, terhadap kehidupannya. Masalah masalah mereka itu sangat terkait dengan dengan isu-isu yang dalam kehidupan masa kini,” kata Garin saat jumpa pers di Epicentrum, Kuningan, Jakarta Selatan, Senin (20/3).

Film ini memang bukan ide dari Garin Sendiri, melainkan  muncul dari tokoh pengusaha yang juga filantropis yaitu Dato Sri Prof Tahir, pendiri Tahir Foundation. Namun demikian dalam penggarapannya Garin diberikan keleluasaan untuk mengembangkan imajinasinya, sehingga selain pesan yang ingin disampaikan ke penonton bisa sampai tetapi film tersebut juga menjadi menarik dan enak di tonton.
Bahkan ketika ditanya oleh awak media tentang ada nggak titipan dari Pak Taher yang mempengaruhi isi dalam film tersebut?, serta kalau ada seberapa besar?, Garin pun menjawab dengan tegas;

“ Kalau dibilang titipan ya pasti ada, karena ide kan dari beliau, Pak Tahir mengusulkan beberapa ide, antaranya tentang komitmen sosial dalam perbedaan dan hubungan cinta yang tidak kenal fisik, tetapi saya juga dikasih kebebasan untuk mengeksplore apa yang saya punya sehingga menjadi film seperti sekarang ini”, tambah Garin.

Menariknya dari cerita dalam film tersebut jika digambarkan seperti pertemuan antara dua kutup yang berbeda, namun bisa saling mewarnai. Penggalan ceritanya adalah, disstu sisi demi membiayai hidupnya, Asih (BCL) bekerja serabutan sebagai joki 3 in 1 dan buruh cuci, namun dia tetap memegang teguh prinsip kehidupan yang bermartabat walaupun harus hidup miskin di tengah gemerlap Kota Jakarta. Meskipun berparas cantik, dia lebih memilih jalan yang sulit dengan bekerja keras dan membanting tulang demi menghidupi anak dan adiknya.

Sementara, pada sisi lain, David (Morgan Oey) adalah seorang pengusaha muda yang tengah berada di puncak karirnya. Namun kehidupannya berubah seketika setelah istrinya yang sangat ia cintai meninggal. Selain itu David juga divonis dokter telah terjangkit Alzaimer yang akan membuatnya kehilangan daya ingat dan berujung kematian. Sebagai orang yang dikaruniai kekayaan berlimpah, David berusaha memaknai kehidupan pada sisa usianya dengan semakin banyak berbagi dengan umat manusia yang membutuhkan pertolongan.
Kemudian muncul pula konflik dari keluarga meminta David agar memberikan keputusan untuk menentukan nasib bisnisnya sebelum semua ingatannya hilang.

Suatu hari David bertemu dengan Asih. David yang dalam proses kehilangan ingatannya justru semakin larut dalam kenangan masa kecilnya. Terlebih lagi ia menemukan sosok Asih sebagai figur ibunya saat ia masih kecil. Ibu tunggal yang perkasa yang mampu menghidupi dan merawatnya di tengah kemiskinan dengan prinsip-prinsip hidup tentang manusia dan kerja.

Hubungan Asih dan David semakin dekat karena Asih mengetahui penyakit David yang akan kehilangan seluruh ingatannya. Asih berusaha memberikan kebahagiaan non material pada David. Ia tahu untuk memperlambat proses hilangnya ingatan, David harus sering dibawa ke kerumunan manusia.

Sementara, Asih lewat David menemukan keindahan mengubah dan membangun hidupnya dan keluarganya tanpa kehilangan prinsip hidup. Sebuah nilai hidup yang perlu ditumbuhkan di kota-kota besar, ketika kemanusiaan terkubur oleh kekerasan kompetisi hidup kota besar.

Meskipun berperan sebagi orang yang menderita, BCL merasa menikmati dan berusaha nutuk menunjukkan totalitasnya. Hal itu diungkapkan BCL saat preskon.

“ Berperan sebagai asih dengan segala problem kehidupan dalam kemiskinan merupakan tantangan bagi saya, saya berusaha total dalam film ini, sayapun siap untuk didandani jelek, berperan dalam film kan tidak harus berdandan canti, jadi saya menikmati ketika harus berpakaian jelek, atau tampak jelek, misalnya sebagai buruh nyuci kuku juga disesuaikan harus terlihat seperti layaknya seorang buruh nyuci” ungkap BCL.

Seperti kita tau bahwa toleransi orangi Indonesia terhadap perbedaan selama ini sangat tinggi, namun belakangan terusik dengan sebagian masyarakat yang berusaha mengkotak-kotakkan antara suku ras dan agama yang mempertajam perbedaan.

Dalam film ini kita diajak untuk kembali ke tingkat toleransi tinggi seperti semula karena memang dasarnya masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang prular. Semoga film Moon Cake bisa menginspirasi kita untuk kembali menghargai perbedaan dalam bingkai Bhineka Tunggal Ika./Irish

No More Posts Available.

No more pages to load.