JAKARTA, VOICEMAGZ.com – Duo punk asal Purbalingga, Sukatani, dipilih untuk mengisi original soundtrack (Ost.) film “OZORA: Penganiayaan Brutal Penguasa Jaksel” yang diproduksi Umbara Brothers Film.
Adapun, film yang disutradarai Anggy dan Bounty Umbara, film OZORA diambil dari kisah nyata penganiayaan brutal yang dialami David Ozora (16) oleh anak pejabat Ditjen Pajak Jakarta Selatan.
Kasus yang terjadi pada Februari 2023 ini menjadi perhatian publik luas, karena banyaknya kejanggalan selama proses penegakan hukum, yang membuat Jonathan (41), ayah David, harus berjuang melawan sistem hukum yang timpang.
Bagi Anggy Umbara, pemilihan Sukatani untuk mengisi soundtrack bukan tanpa alasan. Ia menyebut adanya benang merah ideologis antara semangat yang diusung musik Sukatani dengan pesan yang ingin disampaikan melalui film OZORA.
“Yang paling utama dipakai lagu-lagunya Sukatani,” kata Anggy saat ditemui awak media di Kemang, Jakarta Selatan, Rabu, 22 Oktober.
Adapun dua lagu andalan dari Sukatani, “Bayar Bayar Bayar” dan “Gelap Gempita”, dipilih untuk menjadi pengiring dari kisah perjuangan ayah David Ozora dalam mencari keadilan.
Lebih dari sekadar kolaborasi profesional, Anggy sendiri merasakan kedekatan personal dengan Sukatani. Ia merasa berasal dari “skena” yang sama, yaitu dunia musik bawah tanah atau underground.
“Satu skena sama kita, sesama anak underground,” ujar sang sutradara
Namun pemilihan dua lagu Sukatani sebagai soundtrack sempat menuai perdebatan internal di kalangan tim produksi. Mereka merasa lirik lagunya dianggap cukup provokatif dan tendensius.
Namun, setelah melalui pertimbangan matang, mereka diputuskan untuk tetap mempertahankan keaslian lirik tersebut. Anggy merasa, mengubah lirik sama saja dengan merusak kejujuran dan ekspresi seni dari Sukatani.
“Tadinya kita mau take out beberapa kata-katanya,” kata Anggy. “Akhirnya kita ngobrol-ngobrol lagi, akhirnya enggak usah deh. Kita biarin utuh, as it is saja gitu, karena memang itu adalah sebuah bentuk kejujuran dari band tersebut.”
Sebagai informasi, film Ozora yang akan tayang perdana di bioskop pada 4 Desember mendatang, dibintangi Chicco Jerikho, Muzakki Ramdhan, Erdin Werdrayana, Tika Bravani, Donny Damara, Annisa Kaila, serta Mathias Muchus.
Lebih dari sekedar kisah perjuangan seorang ayah yang menuntut keadilan bagi anaknya, Anggy menyebut film OZORA adalah refleksi sosial tentang kekuasaan, elitisme, dan keberanian orang kecil menghadapi ketidakadilan.
Film ini menyoroti fenomena “people power exists”, di mana kekuatan masyarakat dapat menjadi cahaya di tengah gelapnya sistem yang tak berpihak.
“Film ini lahir dari keresahan pribadi atas fenomena anak-anak yang merasa diri mereka lebih superior terhadap yang lainnya. OZORA adalah sebuah cermin untuk mengingatkan kita bahwa bullying dan power abuse tidak boleh terulang kembali di negeri ini,” tutur Anggy.
Film ini bukan hanya mengangkat kisah nyata kekerasan dan hukum, tapi tentang cinta, doa, dan keikhlasan seorang ayah. Melalui OZORA, penonton diajak merenung bahwa kekuatan sejati lahir dari hati yang tidak menyerah dan bahwa keadilan untuk satu orang bisa berarti harapan untuk banyak orang./Eds.








