Jalan Terjal Melestarikan Musik Keroncong dan Meregenerasi Musisinya

oleh
oleh

Oleh: Irish Riswoyo

JAKARTA, VOICEMAGZ.com –  Musik keroncong ada yang mengkalim sebagai musik asli dari leluhur nenek moyang kita ini dari masa ke masa. Namun dengan sejumlah alasan, ada juga yang berpendapat nusik tersebut berasal dari kolonial Portugis. Meski hal ini bisa diperdebatkan, namun kebanyakan sepakat bahwa musik keroncong adalah salah satu musik asal Indonesia.

Sejarah panjang  keberadaan musik keroncong di Indonesia yang kini lambat laun mulai hilang terdegradasi oleh zaman,  membuat timbulnya  rasa kepedulian oleh banyak orang untuk melestarikan  musiknya dan meregenerasikami para musisinya, termasuk penulis.

Tentu tak semudah membalik telapak tangan untuk bisa melestarikan  musiknya dan meregenerasikami para musisinya tersebut. Dalam upayanya penulis pernah melakukan perjalanan panjang  secara swadaya dari Jakarta menyambangi beberapa kota seperti Purwokero, Purbalingga, Banjarnegara, Wonowobo, Purworejo, Magelang, Yogya hingga ke Solo, hanya umtuk menelusuri akar dan endemi musik keroncong pada sekitar 2012 silam. Perjalanan ini selanjutnya kami beri nama keroncong trip 1 (satu).

Kemudian perjalanan dilanjutkan dengan keroncong trip 2 menyusuri kota Madiun, Surabaya, Jombang, Malang, Jember hingga Mataram Lombok NTT, pada 2 tahun berikutnya atau sekitar tahun 2014.

Dari perjalanan tersebut penulis merangkum banyak hal, tetapi tentu tak mungkin untuk dituangkan dalam tulisan secara utuh. Akan tetapi penulis akan berbagi  beberapa hal secara ringkas, terutama menyangkut regenerasi musik keroncong di Tanah Air,

Kita tau, sekarang ini musik keroncong seolah jalan ditempat, ata bahkan  pudar dan menghilang dari pendengaran telinga kita. Musik yang satu ini sulit untuk berkembang selaras dengan arus zaman. Padahal musik keroncong dimasa kolonial sempat naik pangkat menyamai musik-musik impor dari Eropa, hal itu dibuktikan oleh digunakannya musik keroncong untuk mengiringi/menghibur makan malam  atau bahkan berdansa para pembesar kolonial Belanda waktu itu.

Dengan demikian musik keroncong sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari kaum gedongan, meskipun yang memainkan atau para musisinya bukan dari kalangan kaum gedongan.

Hingga 30 tahun pasca kemerdekaan,  atau tahun 70an, musik keroncong masih menghiasi siaran-siaran radio atau televisi di Indoneia, bahkan acara Bintang radio dan Televisi pun masih menghadirkan kategori musik  keroncong. Namun lambat laun musik tersebut mulai pudar dan bahkan menjadi barang langka untuk didengarkan.

Berkaca dari itu pula yang mendasari penulis menumpahkan rasa ingin tau mengapa musik keroncong jalan ditempat, sulit berkembang atau bahkan terkubur oleh musik-musik moderen,

Dari pengalaman perjalanan keroncong trip 1 dan 2, secara garis besar penulis menyimpulkan beberapa hal, diantaranya adalah;

1, Musik Keroncong

Dari perjalanan tersebut  penulis menemukan pencerahan, Merskipun dimainkan dengan alat musik yang sama, irama yang nyaris sama, tetapi belum tentu musik tersebut musik keroncong. Sebab, musik keroncong itu ternyata terbagi menjadi 3 bagian, yang masing masing masing bagian bagian memiliki pakem dan ciri masing masing. yaitu Keroncong Asli 28 bar , Langgam 32 bar dan Stambul I, 16 bar dan Stambul II, 32 bar. Ketiganya masuk dalam keluarga besar musik keroncong.

2. Pakem

Para sesepuh musik keroncong tetap mempertahankan pakem musik keroncong Asli 28 bar, dengan pengulangan dari awal lagu. Golongan ini tidak mau dan tidak ingin bahkan tidak rela jika ada yang mengubah pakem tersebut. Menurutnya pakem musik keroncong itu ya 28 bar dan pengulangan dari awal itu.

Tentu banyak alasan, mengapa pakem ini mati-matian dipertahankan, salah satunya adalah pengulangannya yang berhubungan dengan lirik lagu. Lirik lagu pada musik keroncong itu umumnya berisi pitutur atau pesan. Jadi saat pengulangan lagu tidak bisa diulang dari bagien reff-nya saja. Tetapi harus diulang dari awal lagu. Alasannya pesan yang terkandung didalam lirik tersebut menjadi terpenggal, atau penyampaiannya menjadi  tidak utuh.

Dengan aturan jumlah bar yang harus dipenuhi sebagai pakem, maka  oleh kalangan muda atau genersi sekarang dianggap sebagi salah satu  penghambat perkembangan musik keroncong. Umumnya mereka ingin  ada penyesuaian, agar menjadi daya tarik bagi anak-anak muda untuk mendengarkan dan memainkan musik keroncong. Misalnya menyanyikan lagu lagu populer dengan iringan musik keroncong.

Kaum muda berkeinginan agar intinya mereka tertarik dulu dengan musik keroncong, kemudian nyanyi, lalu memainkan musik. Dari sini kita baru bisa berbicara berkreasi, naru berbicara regenerasi dan pelestariannya.

Upaya ini tentu saja tidak mudah, sebab para senior tetap ingin menempatkan musik keroncong yang asli dengan 28 bar. Dilaur itu mereka tidak menganggap itu sebagai sebuah musik keroncong. Jika kita selama ini mendegar lagu seperti misalnya Setangkai Anggrek bulan, atau Sepanjang jalan Kenangan, dengan iringan musik keroncong, maka oleh mereka  itu dianggap bukanlah musik keroncong, tetapi musik pop yang diiringi musik keroncong.

3. Turun Temurun

Musisi keroncong umumnya regenerasinya turun-temurun atau vertikal, Misalnya jika Ayahnya pemain  flute, atau cuk, cak atau celo dan sebagainya turun ke putra atau putrinya, kemudian ke cucunya dan seterusnya. Dari sini kita pahami, jika regenarasinya vertikal, maka memang akan menjadi sulit untuk meregenerasi, sebab hanya orang itu-itu saja yang akan bermain musik kroncong. Lain halnya jika regenerasinya horisontal, kawan, tetangga, atau orang lain manapun bisa menjadi bagian dari regenerasi musik keroncong itu sendiri.

4. Kesulitan Mengumpulkan Pemain Untuk Membentuk Grup/Kelompok Musik Keroncong

Mengacu pada regenerasi yang vertikal diatas, maka untuk membentuk grup musik keroncong menjadi sangat sulit. Mengingat dalam satu kota atau daerah belum tentu ada musisi yang memainkan cukup alat instrumen kroncong. Seringkali dalam satu  daerah atau kota hanya ada pemain gitarnya saja, atau pemain flute-nya saja, atau hanya penyanyinya saja. Sementara untuk memenuhi sebuah grup peman lainnya misalnya cak, cuk, cello, bass dan lainnya berada di kota yang berbeda, hal inilah yang menjadi salah satu kendalanya.

Penggiat keroncong di Banjarneraga bahkan pernah mendirikan grup musik keroncong yang berisikan talenta muda yang isinya anak-anak yang duduk di bangku SMP dan SMA. Mereka sudah kompak dan bagus, bahkan sering mewakili daerahnya untuk mengikuti lomba di tingkat, kabupaten/kota atau provinsi. Tetapi itu tak bertahan lama, sebab ketika lulus SMA mereka terpisah oleh tempat kuliah yang berbeda dan jarak yang berbeda. Jadi dengan sendirinya grup musik tersebut bubar.

5. Minat Bisnis

Minimnya apresiasi masyarakat untuk menanggap musik keroncong juga menjadi salah satu tersendatnya regenerasi. Hal itu diakui oleh para musisi keroncong yang hingga kini masih bertahan.

Dalam sebulan belum tentu ada orang hajatan misalnya memakai jasanya untuk main musik keroncong, sementara ia harus latihan setidaknya seminggu sekali dengan tempat yang lumayan jauh dijangkau.

Sebagai contoh misalnya, sebuah grup keroncong di Borobudur, pemainnya malah bukan asli dari masyarakat setempat. Ada yang dari Yogya, Sleman, Magelang dan lain-lain. Mereka berkumpul meluangkan waktu, tenaga dan tentu biaya untuk latihan setiap seminggu sekali atau 2 minggu sekali. Dengan pengorbanan sebesar itu, belum tentu sebuan sekali ada yanggunakan jasanya.

Kesimpulannya, jika mereka yang berjauhan tempat kemudian berkumpul untuk bermain musik keroncong bersama-sama,  itu merupakan hoby semata yang kuat diantara mereka. Sebab secara nilai ekonomi tentu tak sepadan. Mereka mengaku kalah bersaing dengan musisi yang bermain musik Organ Tunggal, dimana mereka menyebut bahwa dengan satu alat musik berupa Keyboard dan programnya  bisa memainkan segala  jenis musik apa saja termasuk keroncong.

Dari uraian diatas, bisa kita tarik kesimpulan bahwa untuk melestarikan dan meregenerasi musik keroncong bukannya hal mudah. Mengingat kompleksitas broblematiknya yang lumayan banyak, sehingga dibutuhkan kerjasama semua pihak yang peduli. Baik oleh pemerhati/penggiat, pemerintah, maupun swasta.

Jika sinergi ini mampu berjalan terus menerus, maka bukan tidak mungkin musik keroncong akan menghadirkan karya baru, lagu baru, dan musisi-musisi baru. Apresiasi semua pihak dibutuhkan untuk itu./Ib

No More Posts Available.

No more pages to load.