Lewat Santripreneur, Isu Santri Tak Hanya Soal Radikalisme

by -3,762 views

JAKARTA, VoiceMagz.com – Bertepatan dengan Hari Santri Nasional pada 22 Oktober 2018, Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) mencanangkan Program Santripreneur, sebuah upaya pemberdayaan ekonomi pesantren dengan mengutamakan peran Santri dan potensi yang dimiliki pesantren.

Belakangan ini, pesantren dan santri kerap dikait-kaitkan dengan penyebaran paham radikalisme. Guna menangkal stigma buruk itu maka BAZNAS ingin agar pesantren sebagai basis dan pusat ekonomi, baik bagi warga pesantren maupun bagi masyarakat sekitar.

“Pesantren yang kuat adalah pesantren yang mandiri. Isu pesantren bukan semata soal radikalisme, tapi juga bagaimana membangun pesantren, santri dan masyarakat sekitarnya kuat dalam berbagai hal, termasuk dalam hal ekonomi,” ujar Direktur Utama BAZNAS, Arifin Purwakananta saat peluncuran program Santripreneur di Jakarta, Senin (22/10).

Oleh karenanya, BAZNAS berupaya memberikan program pemberdayaan ekonomi dalam Program Santripreneur yang diimplementasikan melalui pengembangan keuangan mikro pesantren dan Zakat Community Development (ZCD).

“130 pesantren sudah kita disambangi, dan sudah kita petakan kebutuhan mereka tidak hanya terkait kebutuhan yang berkaitan dengan sarana fisik saja,” papar Arifin.

Salah satu program Santripreneur yang sudah berjalan ialah program BAZNAS Microfinance di Pondok Pesantren Sidogiri, Pasuruan, Jawa Timur.

BAZNAS bekerjasama dengan Lembaga Keuangan Mikro Syariah Pesantren memberikan bantuan pembiayaan kepada 851 pelaku usaha mikro sebesar Rp3 Miliar. Penerima manfaat ini terdiri atas para alumni pesantren, masyarakat sekitar dan para wali santri yang tersebar di berbagai cabang Baitul Mal Wa Tamwil (BMT) Sidogiri.

Sebelumnya, Pesantren Sidogiri telah membangun ekonomi pesantren dengan menyatukan warga pesantren dan masyarakat sekitar.

“Program Santripreneur di Pesantren Sidogiri diharapkan dapat memperkuat kelembagaan ekonomi yang sudah ada dan memberikan dampak ekonomi berlipat bagi seluruh warga pesantren, wali santri dan juga bagi masyarakat sekitar Pesantren Sidogiri,” papar Arifin.

Saat ini BAZNAS juga tengah mengembangkan Program ZCD di Pondok Pesantren Nurul Huda, Desa Langgongsari, Cilongok, Banyumas. Potensi di wilayah pesantren ini sangat besar untuk pemberdayaan ekonomi, antara lain dengan jumlah santri sekitar 1.000 orang disiapkan untuk memproduksi hygiene kit yang dapat memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari serta produksi biogas untuk menghasilkan listrik bagi pesantren.

Selain itu, warga sekitar Pesantren memiliki usaha gula kelapa yang dapat dioptimalkan pasokan produksi dan pemasarannya. Wilayah ini juga sedang disiapkan menjadi desa buah durian di Jawa Tengah.

Selain dua pesantren tersebut, BAZNAS juga menyalurkan zakat dan infak ke sejumlah pondok pesantren di Indonesia. Pada 2016-2017, BAZNAS menyalurkan bantuan sebesar Rp6,3 miliar kepada 112 pesantren.

Sedangkan pada 2017-2018, sebaran penerima manfaat akan semakin meluas, yakni bertambah menjadi 144 pondok pesantren dengan total dana tersalurkan sebanyak Rp7,4 miliar. (NVR)

No More Posts Available.

No more pages to load.