JAKARTA, VOICEMAGZ.com – Lilli QueenB atau bernama lengkap Lil’Li Latisha menunjukkan eksistensinya di jagad musik Indonesia dengan merilis extended play (EP) atau album mini debut yang bertajuk “2006”.
EP ini memuat tiga lagu serta satu versi remix—ditulis Lilli selama tiga tahun sejak usianya masih 15 tahun—yang mana terinspirasi dari pengalamannya menghadapi insecurity, anxiety, dan tantangan kesehatan mental.
Buat Lilli, “2006” adalah semacam time capsule—kumpulan cerita yang bisa jadi teman bagi remaja atau Gen Z lain ketika mereka ingin menyembuhkan luka masa kecil atau sekadar merasa dilihat di masa sulit.
“Semua lagu yang aku tulis itu datang dari hati dan juga dirilis untuk bantu kalian yang sedang melewati fase krisis identitas atau merasa sendirian dalam menghadapi kesehatan mental kalian,” kata Lilli QueenB dalam keterangannya, Senin, 25 Agustus.
Track spesial dalam EP ini adalah “Flawed REMIX”—diambil dari single pertamanya di tahun 2021 yang dikerjakan lewat kolaborasi dengan Wessel Doornhein, produser musik dan disjoki asal Belanda.
Versi asli “Flawed” ditulis tahun 20220 bercerita tentang rasa tak terlihat, tak terdengar, dan kesepian selama karantina—sambil menyentuh isu seperti body insecurity, kecemasan, dan kesulitan menerima perubahan diri.
“Flawed REMIX” tetap membawa makna lagu aslinya, tapi dengan sentuhan elektronik dan irama dansa yang memberi rasa nostalgia sekaligus energi baru. Tujuannya agar pendengar tidak hanya merasakan sedih, tapi juga bisa melepas beban, menari, dan merasa bebas.
Dikerjakan Secara Independen dan Menjadi Penutup Fase Remaja
EP “2006” dan seluruh track di dalamnya dikerjakan Lilli secara independen. Modal utamanya adalah kecintaan terhadap musik, tanpa pengetahuan lebih di bidang keproduksian.
“EP ini adalah sebuah hasil kerja keras dan tabungan aku sejak umur 15 tahun,” ujar Lilli.
“Aku itu belajar cara menulis lagu sendiri dan aku menjalani karier sebagai musisi benar-benar dengan zero knowledge—tentang bagaimana produksi musik, bagaimana merilis lagu, dan juga bagaimana untuk promosi,” tambahnya.
Sebagai musisi independen, Lilli tidak memungkiri betapa sulit dan mahal untuk memproduksi EP secara maksimal. Ia mengaku harus menyisihkan penghasilannya sebagai kreator konten.
“Karena aku independen, artinya setiap kali aku gajian dari endorse atau dari side hustle, aku masukin untuk rekaman di studio, music producers, mixing dan mastering, dan lain-lain,” tuturnya. “Karena jujur kalau kalian enggak tahu music production dan juga kalian enggak ada equipment yang sesuai, biayanya itu akan sangat mahal. Setidaknya buat aku.”
Namun di samping itu, EP “2006” juga menjadi penanda baru perjalanan musik Lilli QueenB. Bukan hanya menandai akhir masa remaja, namun juga awal dari sesuatu yang benar-benar baru.
Lilli baru saja diterima di California Institute of the Arts (CalArts), Amerika Serikat. Selama empat tahun ke depan, ia akan menempuh studi BFA (Bachelor of Fine Arts) dengan beasiswa penuh.
“Ini EP yang super spesial buat saya, karena ini mengakhiri chapter hidup saya sebelum saya memasuki chapter baru di perkuliahan,” tandasnya./Eds.






