In Memoriam Jockie Suryoprayogo: Rocker Yang Jadi Darah Baru Industri Musik Pop

by -2,463 views

JAKARTA, Voicemagz.com – Musisi yang lahir 14 September 1954 ini pernah tergabung dalam berbagai grup rock seperti Bigman Robinson, Double O, Giant Step, Contrapunk, dan Jaguar.

Meski pada akhirnya Jockie lebih dikenal khalayak ketika ikut bergabung dalam kelompok musik rock Godbless.

Kepiawaiannya bermain dalam ranah musik yang berbeda, dari rock, sedikit klasik, sedikit jazz, pop, hingga etnik, menjadikan Jockie bak air yang menembus ke ruang dan dimensi apa pun tanpa harus memupuskan jati dirinya. Jockie mampu berbaur dalam genre musik apa pun tanpa menghilangkan karakternya dalam bermusik.

Bergabung membentuk Godbless pada tahun 1972. Corak permainan kibornya dianggap memberikan kontribusi dalam karakter musik Godbless.

Dengan menyisipkan aksentuasi berbau klasik, terutama membaurkan bunyi-bunyian piano dan Hammond B-3, orang sudah bisa menebak karakter God Bless, walaupun pada saat itu seperti lazimnya semua grup rock yang berkecambah di Indonesia lebih banyak memainkan repertoar grup-grup mancanegara seperti Deep Purple, Yes, Edgar Winter, Spooky Tooth, Kansas dan banyak lagi.

Posisi Jockie di Godbless sempat digantikan Abadi Soesman dalam album Cermin dan bergabung kembali dalam penggarapan album Semut Hitam yang dirilis pada tahun 1988.

Pada 1977, sosok Jockie berada di jalur musik pop. Saat itu Jockie menjadi arranger album Lomba Cipta Lagu Remaja yang diadakan Radio Prambors Rasisonia.

Gebrakan Jockie yang menata aransemen lagu seperti ‘Lilin Lilin Kecil’ (James F. Sundah) dianggap sebagai suntikan darah baru dalam industri musik pop yang saat tengah dilanda booming lagu-lagu pop dengan akord sederhana dan tema lirik yang cenderung cengeng dan mendayu-dayu.

Pada tahun yang sama Eros Djarot menggandeng Jockie untuk menggarap album soundtrack film ‘Badai Pasti Berlalu’ bersama sederet nama lainnya seperti Chrisye, Berlian Hutauruk, Debby Nasution, Keenan Nasution dan Fariz RM.

Album ini pun menjadi fenomenal terutama dari sisi tata musik yang menyajikan akord yang lebih luas serta penulisan lirik yang lebih puitis.

Menariknya lagi di album ini fungsi instrumen kibor menjadi dominan. Bunyi-bunyian keyboard ini memang terasa orkestral dan simfonik, sesuatu yang sering kita dengarkan pada repertoar grup seperti Genesis dan Yes.

Gaya aransemen musik seperti ini lalu berlanjut ketika Jockie menggarap album-album solo Chrisye seperti ‘Sabda Alam’, ‘Percik Pesona’, ‘Puspa Indah Taman Hati’, ‘Pantulan Cinta’, ‘Resesi’, ‘Metropolitan’, dan ‘Nona’ yang sering disebut orang sebagai pop kreatif.

Tahun 1984 merupakan saat terakhir kolaborasi Jockie dan Chrisye. Tetapi Jockie yang juga cukup produktif merilis sederet album solo, masih tetap bermain di wilayah pop dengan menggarap album-album dari berbagai penyanyi, mulai dari Dian Pramana Poetra, Keenan Nasution, Vonny Sumlang, Titi DJ, Andi Meriem Matalatta, dan masih banyak lainnya.

Tiga tahun kemudian, Jockie bergabung lagi dengan Godbless. Muncul lah album Semut Hitam (Logiss Record,1987) dengan konsep musik rock yang lebih segar.

Di era ini juga memperlihatkan ketertarikan Jockie kembali menjamah musik rock. Ia mulai ikut menggarap berbagai album rock sebagai komposer, player dan music director pada album album milik Mel Shandy, Ita Purnamasari, Ikang Fawzi, hingga Nicky Astria.

Selamat jalan mas Jockie.. Semoga tenang disana.. Amin.. (NVR – dari berbagai sumber)

No More Posts Available.

No more pages to load.