Putuskan Urus Keluarga, Salahkah Jika Perempuan Kembali Ke Rumah?

by -2,373 views

BANDUNG, VoiceMagz.com – “Setelah menikah, apa kegiatanmu sekarang?” “Aku sekarang jadi ibu rumah tangga,”
“Oh hanya ibu rumah tangga? Sesudah kamu menjadi sarjana?”

Begitulah sekelumit dialog yang sering terdengar dalam pembicaraan sehari-hari antar sesama perempuan. Fakta ini pun telah lama menjadi kegelisahan tersendiri bagi Sekar Utami, seorang dosen sekaligus pemerhati perempuan asal Bandung.

Sayangnya sebelum mampu berbuat banyak, setahun lalu istri dari budayawan Bandung, Dicky Suwanda ini tutup usia akibat kanker payudara yang dideritanya.

Sebelum meninggal dunia, Sekar Utami sempat menuangkan sejumlah pemikiran tentang seputar permasalahan perempuan di blog pribadinya, termasuk gagasan gerakan perempuan kembali ke rumah.

Dan kini, Ketua Umum Kumari Nusantara, Anneke Sjuultje Lesar punya pemikiran yang sejalan dengan apa yang dirisaukan oleh Sekar Utami. Ia melihat, emansipasi telah membuat sebagian perempuan menjadi kebablasan sehingga tak lagi menjalankan kodratnya sebagai perempuan dan ibu.

“Bila hal ini dibiarkan terus-menerus, dapat merusak negeri ini dan generasi penerus bangsa,” ujar Anneke di sela-sela deklarasi Kumari Nusantara di Cimahi, Jawa Barat, Minggu (2/9).

Ketua Umum Kumari Nusantara, Anneke Sjuultje Lesar bersama Sekjen Kumari Nusantara, Nurwendah Dewi saat Deklarasi Kumari Nusantara di Cimahi, Bandung, Minggu (2/9).

Berangkat dari pemikiran tersebut, Anneke kini aktif terlibat secara aktif di Kumari Nusantara yang merupakan organisasi perempuan di bawah Dewan Adat Sunda. Organisasi ini juga ikut mendorong bangkitnya adat Sunda di kalangan generasi muda di Jawa Barat.

”Kumari berasal dari bahasa sansekerta yang berarti perempuan. Penggagasnya almarhumah Sekar Utami. Sebelum meninggal, beliau pernah menulis di blognya bahwa perempuan harus kembali ke rumah. Pertanyaan ‘hanya sebagai ibu rumah tangga membuat beliau terbelalak. Sebegitu parahkah pemahaman kaum perempuan terhadap peran ibu rumah tangga. Sebegitu rendahkah penilaiannya?” ungkap Anneke yang baru saja menjabat sebagai Ketua Umum Kumari Nusantara ini.

Anneke mengatakan, dalam hidupnya seorang perempuan sejatinya menjalankan dua peran. Sebagai makhluk individual dan sosial. Kedua peran ini harus dijalankan secara seimbang. Ketika setelah berumah tangga, dia memilih tetap berkarier diluar, maka harus memastikan semua berjalan on the track, dimana perannya sebagai istri dan ibu bagi anak-anaknya tidak terbengkalai.

“Melalui wadah ini saya dan teman-teman ingin menyuarakan hati perempuan. Seorang perempuan yang kembali ke rumah tetap harus memiliki karya untuk orang banyak. Dia tetap bisa melakukan hal-hal yang hebat. Kita akan melakukan beragam program yang membuat setiap perempuan dapat berdaya. Jadi disini bisa dikatakan bahwa arti kembali ke rumah itu bukan sekedar kembali. Tapi kembali untuk membuat karya-karya besar,” tegas Anneke.

Dia berharap, ke depannya nanti para perempuan bisa saling menghargai setiap keputusan yang mereka ambil.

“Apakah hanya menjadi ibu rumah tangga di rumah atau juga bekerja di luar rumah, itu harus dihargai. Dan perempuan harus bisa menyeimbangkan keduanya, bekerja di luar rumah dan juga sekaligus tetap bisa mengurusi keluarga di rumah,” urainya.

Selain berfokus pada para perempuan kembali ke kodratnya, Kumari Nusantara juga mendorong pemerintah memasukan kembali pelajaran budi pekerti ke dalam kurikulum pendidikan di Indonesia.

“Sebagai ibu kami berharap budi pekerti kembali dimasukan ke dalam kurikulum pendidikan di sekolah agar anak-anak Indonesia kembali menjadi manusia yang berbudi pekerti luhur,” jelas Anneke.

Deklarasi Kumari Nusantara.

Tak hanya itu, Kumari Nusantara juga ikut mendorong bangkitnya adat Sunda di kalangan generasi muda di Jawa Barat. Dalam filosofi Sunda, perempuan merupakan pemimpin di rumah tangga.

Dengan tugas dan tanggung jawab tersebut, Sekjen Kumari Nusantara, Nurwendah Dewi mengajak perempuan saling bersinergi.

“Mari kita sebagai perempuan kembali ke rumah, karena perempuan merupakan benteng pertahanan keluarga dan negara. Perempuan hancur, benteng rumah tangga dan negara pun akan hancur,” pungkas wanita yang akrab disapa Teh Weni ini penuh semangat. (NVR)

No More Posts Available.

No more pages to load.