JAKARTA, VoiceMagz – Dunia musik rock berduka. Ozzy Osbourne, legenda hidup sekaligus ikon heavy metal dari Black Sabbath tutup usia pada Selasa (22/7) di usia 76 tahun setelah berjuang melawan penyakit Parkinson yang telah diidapnya sejak 2020.
Kabar kepergian Osbourne diumumkan secara resmi keluarganya melalui pernyataan yang dikutip The Independent.
“Dengan kesedihan yang tak terlukiskan, kami harus mengumumkan bahwa Ozzy Osbourne tercinta telah meninggal dunia pagi ini. Beliau bersama keluarga dan dikelilingi oleh cinta. Kami meminta semua orang untuk menghormati privasi keluarga kami saat ini,” bunyi pernyataan tersebut.
Meski kepergiannya menorehkan duka mendalam bagi dunia musik, Ozzy Osbourne sejatinya tak ingin pemakamannya diselimuti kesedihan. Dalam beberapa wawancara sebelum wafat, sang Prince of Darkness sudah berulang kali menyatakan keinginan agar hari perpisahannya menjadi sebuah perayaan, bukan ratapan.
Dalam wawancara dengan The Times of London pada 2011, Osbourne pernah mengatakan bahwa ia tidak mempermasalahkan jenis musik apa pun yang akan diputar di pemakamannya. Bahkan, ia secara eksplisit menyebutkan bahwa lagu Justin Bieber, Susan Boyle, atau grup komedi Diddy Men sah-sah saja dimainkan.
“Sejujurnya saya tidak peduli apa yang mereka putar di pemakamanku. Mereka bisa memutar medley Justin Bieber, Susan Boyle, atau We Are the Diddymen jika itu membuat mereka bahagia. Namun, saya ingin memastikan bahwa ini merupakan sebuah perayaan, bukan pesta kesedihan,” ucap Ozzy saat itu.
Tak hanya itu, Ozzy juga sempat mengutarakan keinginannya untuk menyelipkan elemen humor di pemakamannya. Dalam wawancara yang dikutip New York Post, ia bahkan sempat berkelakar ingin ada suara ketukan dari dalam peti mati atau rekaman dirinya yang bertanya kepada dokter,
“Apakah saya benar-benar mati? Saya juga mau ada beberapa lelucon. Mungkin suara ketukan di dalam peti mati, atau video saya minta dokter memastikan kematian ini. Tidak akan ada yang bersedih-sedihan,” ungkapnya.
Keinginan Osbourne untuk mengucapkan salam perpisahan terakhir di atas panggung juga sempat terwujud. Dalam wawancara dengan Rolling Stone pada 2023, ia mengungkapkan hasrat terakhirnya: cukup sehat untuk sekali lagi naik panggung dan menyapa para penggemarnya.
“Jika saya tidak bisa tampil secara rutin, saya hanya ingin cukup sehat untuk melakukan satu konser di mana saya bisa bilang, ‘Halo semuanya, terima kasih banyak atas kehidupan ini’,” ujar Ozzy.
Hasrat tersebut tercapai saat Ozzy menggelar konser terakhir bersama Black Sabbath di Villa Park, Birmingham, Inggris, pada 5 Juli lalu. Sebanyak 42 ribu penonton hadir menyaksikan pertunjukan emosional yang menjadi babak penutup perjalanan musik salah satu ikon terbesar heavy metal itu.
Dikenal sebagai “Prince of Darkness,” Ozzy Osbourne adalah vokalis ikonik yang membawa Black Sabbath ke puncak kejayaan sebagai pionir musik heavy metal. Gaya teatrikalnya di atas panggung, termasuk aksi ekstrem menggigit kepala kelelawar membuatnya menjadi salah satu sosok paling kontroversial sekaligus disegani di dunia musik.
Selama kariernya, ia tak hanya dikenang karena karya-karyanya yang menggetarkan dunia, namun juga karena keberaniannya tampil beda, menghadapi penyakit kronis, dan membuka sisi manusiawinya kepada publik.
Ia juga membangun karier solo yang tak kalah sukses dari kiprah bersama Black Sabbath, menghasilkan lagu-lagu ikonik seperti Crazy Train, Mr. Crowley, dan Mama, I’m Coming Home.
Sejumlah musisi besar pun telah menyampaikan penghormatan mereka, termasuk Oasis dan Johnny Depp yang menyebut Ozzy sebagai “sosok inspiratif yang tak tergantikan. Film dokumenter tentang konser terakhir Ozzy dan Black Sabbath juga dikabarkan tengah digarap dan akan dirilis di bioskop pada 2026.
Kini, dunia mengucapkan selamat tinggal kepada Ozzy Osbourne, seorang legenda yang bahkan menjadikan kematiannya sebagai panggung penuh musik, tawa, dan cinta.
Selamat jalan, Prince of Darkness. Rock in peace. (RNZ)






