JAKARTA, VOICEMAGZ.com – Dunia pusat perbelanjaan di Indonesia memasuki babak baru. Untuk pertama kalinya, hadir standar nasional dalam penggunaan musik di ruang publik. Melalui kerja sama antara Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) dan Velodiva, platform musik berlisensi karya anak bangsa, seluruh mal di Indonesia kini dapat menggunakan musik dengan cara yang legal, transparan, dan berpihak pada pencipta.
Dengan hadirnya Velodiva, pemilik usaha kini bisa memutarkan musik di ruang publik tanpa rasa khawatir, karena sistemnya yang legal dan transparan memastikan setiap lagu tercatat otomatis dan royalti tersalurkan dengan jelas kepada pencipta.
APPBI melihat hal ini sebagai solusi ideal bagi anggotanya, sehingga pusat perbelanjaan dapat menghadirkan pengalaman belanja yang nyaman sambil tetap menghargai hak pencipta. Badai kekhawatiran soal royalti yang selama ini membayangi industri pun kini berlalu, memberi kesempatan bagi pengelola untuk fokus pada kreativitas dan kenyamanan pengunjung dengan aman dan tenang.
Velodiva memiliki sistem pencatatan otomatis yang merekam setiap lagu yang diputar. Data ini menjadi dasar distribusi royalti kepada pencipta musik melalui Lembaga Manajemen Kolektif Nasional (LMKN). Bagi pengelola pusat belanja, Velodiva menghadirkan kemudahan karena musik yang tersedia sudah terkurasi sesuai suasana mal, semua lisensi musik terjamin secara legal, dan sistemnya transparan serta mudah diawasi.
“Velodiva bukan sekadar aplikasi musik, melainkan standar baru. Kami ingin memastikan setiap nada yang diputar di mal adalah nada yang terlindungi, adil bagi pencipta, dan nyaman bagi pengunjung,” ujar Vedy Eriyanto, CEO Velodiva.
APPBI sendiri telah lama dikenal sebagai asosiasi pionir dalam urusan royalti musik. Pada 2019 lalu, APPBI menjadi organisasi pertama yang menandatangani perjanjian kolektif dengan LMKN. Kini, melalui kolaborasi dengan Velodiva, APPBI memperkuat posisinya sebagai penentu arah standar nasional. Ketua Umum APPBI, Alphonzus Widjaja, menegaskan bahwa musik adalah bagian penting dari pengalaman belanja, dan lebih dari itu, APPBI ingin memastikan semua pusat belanja beroperasi sesuai hukum. Menurutnya, Velodiva memberi cara yang praktis, legal, dan transparan untuk mewujudkan hal tersebut. Dengan hampir 400 anggota pusat belanja di seluruh Indonesia, APPBI berharap standar baru ini akan segera diadopsi serentak di berbagai kota besar hingga daerah.
Langkah penting ini juga mendapat dukungan penuh dari Gerakan Ekonomi Kreatif Nasional (Gekrafs). Organisasi yang mewakili pelaku ekonomi kreatif di seluruh Indonesia itu menilai kerja sama APPBI dan Velodiva sebagai momentum emas untuk memperkuat posisi musik dalam ekonomi kreatif nasional. Ketua Umum Gekraf, Kawendra Lukistian, menyatakan bahwa Indonesia adalah tempat berasalnya keberagaman musik dan karya yang menjadi identitas bangsa. Maka kekhawatiran dalam memutarkan musik untuk komersial area harusnya tidak dirasakan oleh masyarakat. Dengan menjadikan Velodiva sebagai standar di mal, menurutnya, Indonesia sedang menuliskan sejarah baru untuk industri musik. Kawendra menambahkan bahwa dukungan Gekraf tidak berhenti pada seremoni, tetapi juga akan mengawal implementasi di lapangan serta mendorong subsektor kreatif lain agar mencontoh langkah APPBI. Ia percaya bahwa jika pusat perbelanjaan sudah berani mengambil langkah ini, hotel, restoran, dan sektor hiburan lainnya akan segera menyusul.
Kerja sama ini membawa manfaat luas bagi semua pihak. Pencipta musik akan menerima royalti secara transparan sesuai data pemutaran, pengelola mal terbebas dari risiko hukum sekaligus mendapat sistem musik yang profesional, pengunjung dapat menikmati suasana belanja dengan musik legal dan kurasi berkualitas, sementara industri kreatif memiliki ekosistem yang sehat dan berbasis teknologi. Pemerintah pun terbantu dalam mengawasi kepatuhan hak cipta di ruang publik.
Kolaborasi antara APPBI, Velodiva, dan Gekrafs menjadi tonggak sejarah. Untuk pertama kalinya, ada standar jelas tentang musik di ruang publik—standar yang tidak hanya legal, tetapi juga adil dan berpihak pada semua pihak. Dengan jutaan pengunjung mal setiap harinya, keputusan ini akan berdampak luas: mulai dari kesejahteraan pencipta lagu, kenyamanan konsumen, hingga tumbuhnya ekonomi kreatif nasional. “Sejarah sedang ditulis hari ini. Velodiva resmi menjadi standar musik di mal Indonesia,” ujar Alphonzus menutup pernyataannya./Agn.






