‘Impian Negeri Berkabut’, Rujukan Mimpi Sukses Di Negeri Orang

by -1,660 views

JAKARTA, VoiceMagz.com – Tak semua kisah buruh migran penuh duka, tapi tak sedikit yang menguras air mata bahkan nyawa. Ditipu, diperdaya dan diperjualbelikan layaknya barang. Sudah selayaknya berpikir ulang dan tak asal mau diajak bekerja di luar negeri dengan iming-iming gaji besar dengan cara mudah.

Hal inilah yang dikampanyekan film ‘Impian Negeri Berkabut’ garapan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) bersama Serikat Buruh Migran (SBMI) Wonosobo yang berupaya mensosialisasikan pencegahan human trafficking bermodus iming-iming bekerja menjadi buruh migran.

“Sampai detik ini, human trafficking masih berlaku dengan berbagai modus. Kita akan tayangkan film ini diberbagai kantong-kantong pemasok TKI dan TKW di Indonesia. Setidaknya masyarakat akan mendapat masukan bagaimana mencari pekerjaan di luar negeri yang legal,” ujar produser sekaligus pemain ‘Impian Negeri Berkabut’, Maizidah Salas di sela-sela penayangan perdana film ini yang difasilitasi Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) di Jakarta, Kamis (15/2).

Maizidah yang juga pernah menjadi buruh migran ini melanjutkan, seluruh pemeran dalam film tersebut adalah eks TKW yang pernah menjadi korban human trafficking dan atau korban tindak kekerasan oleh para majikan mereka. Film ini sendiri nyaris 100 persen diperankan oleh mantan buruh migran yang pernah mengalami human trafficking dan juga 100 persen setting lokasinya di Wonosobo, Jawa Tengah.

“Dengan cerita sederhana ini, pesannya kami harapkan sangat mudah diterima masyarakat, sehingga ketika akan bekerja ke luar negeri itu mereka sudah punya gambaran. Bekerja ke luar negeri itu tidak melalui calo atau penyalur tenaga kerja ilegal,” ucap Maizidah.

Di tempat yang sama, Ketua BAZNAS, Bambang Sudibyo mengatakan BAZNAS selaku pelaksana pengelolaan zakat mendukung upaya penghentian dan melawan perdagangan manusia. Dikatakannya, BAZNAS perlu masuk pada berbagai kasus penderitaan pekerja migran  yang dalam UU yang baru istilah yang dipakai adalah Pekerja Migrant Indonesia (PMI).

“Ada tiga Asnaf zakat yang mengkaitkannya yakni fakir/miskin, dimana banyak pekerja migran yang berangkat bekerja ke luar negeri karena kasus-kasus kemiskinan dan kasus-kasus ikutannya. Lalu adalah asnaf Riqob atau perbudakan, yaitu adanya praktek perdagangan manusia (human trafficking) dalam banyak kasus pekerja migran di berbagai negara,” ujar Bambang.

Untuk mendukung perlawanan terhadap human trafficing tadi, BAZNAS berupaya membantu migran atau purna migran dengan memberikan layanan dan pendampingan, bantuan kasus pemulangan pekerja migran dan bantuan pemberdayaan purna migran. BAZNAS juga mendorong dakwah bagi migran dan dukungan shelter bagi mereka yang berperkara. Pendekatan BAZNAS untuk berbagai permasalahan migran ini dilakukan dalam bentuk bantuan advokasi, bantuan sosial dan bantuan pemberdayaan ekonomi akan terus ditingkatkan dari tahun ke tahun.

“Selama ini BAZNAS telah merambah Hongkong dan Korea. Di Malaysia sendiri kita sudah berkomunikasi dengan Dubes Indonesia dimana kita juga akan bekerjasama guna memfasilitasi zakat mereka,” ujar Bambang yang dalam kesempatan itu menyerahkan secara simbolis ambulance bantuan BAZNAS untuk pelayanan bagi buruh migran.

Sedangkan Wakil Bupati Wonosobo, Agus Subagyo selaku stakeholder dari wilayah kantong pemasok buruh migran mengakui, permasalahan ekonomi masih menjadi penyebab utama masih banyaknya buruh migran yang mudah dirayu untuk bekerja ke luar negeri secara ilegal.

“Maka dari itu kami selaku pemerintah daerah mencarikan solusi lapangan pekerjaan. Fakta seperti yang ditayangkan dalam film ini memang terjadi. Rayuan-rayuan buat para pencari kerja dengan iming-iming bayaran besar dan janji-janji manis masih terjadi,” ucap Agus.

Ia tak menampik jika banyak juga buruh migran yang sukses di luar negeri. Untuk menuju kesana maka pihaknya juga telah menyiapkan law enforcement bagi para buruh migran yang salah satunya untuk mencegah human trafficking.

“Kalau menggunakan jalur yang legal tak menutup kemungkinan mereka bisa sukses. Banyak buruh migran asal Wonosobo yang sukses di Korea Selatan. Bahkan ketua SBMI di Angsan, Korea Selatan berasal dari Wonosobo lho,” ujar Agus.

Merujuk sebuah peribahasa: “Gantungkanlah mimpi dan cita-citamu setinggi langit”, maka tak salah jika sejak saat ini mulailah cerdas dalam memilih jalan menuju impian kesuksesan lewat bekerja di luar negeri. (NVR)

No More Posts Available.

No more pages to load.