JAKARTA, VOICEMAGZ.coM – Tangis dan luka lama dibawa puluhan mantan pekerja Oriental Circus Indonesia (OCI) saat mendatangi Kantor Kementerian Hukum dan HAM di Jakarta Pusat, Selasa (15/4). Mereka menyampaikan pengakuan mengejutkan soal perlakuan tidak manusiawi yang mereka alami selama bertahun-tahun bekerja di balik kemegahan pertunjukan sirkus.
Dalam kesaksian yang terekam dalam podcast Forum Keadilan TV di kanal YouTube, para mantan pemain sirkus ini mengaku terpaksa terus tersenyum di atas panggung, menyambut tepuk tangan penonton, meski dalam kenyataan mereka hidup dalam tekanan, siksaan, dan pembatasan.
“Kami dipasung, disiksa, hak kami dirampas, dan bahkan dilarang bersosialisasi,” ungkap salah satu mantan pemain.
Lebih dari itu, banyak dari mereka yang tidak mengenal keluarga kandungnya, bahkan tidak tahu siapa dirinya sendiri. Sejak kecil, identitas mereka disebut telah dicuri dan dikaburkan, menjadikan mereka terjebak dalam lingkaran eksploitasi tanpa suara.
Cerita memilukan ini diungkap para perempuan tersebut di hadapan Wakil Menteri HAM Mugiyanto, Selasa (15/4/2025), saat mengadukan pengalaman pahit yang mereka alami selama bertahun-tahun, mulai dari kekerasan fisik, eksploitasi, hingga perlakuan tidak manusiawi.
Butet, salah satu pemain sirkus, bercerita bahwa ia sering mendapatkan perlakuan kasar selama berlatih dan menjadi pemain sirkus.
“Kalau main saat show tidak bagus, saya dipukuli. Pernah dirantai pakai rantai gajah di kaki, bahkan untuk buang air saja saya kesulitan,” kata Butet di Kantor Kementerian HAM, Jakarta, Selasa.
Bahkan, ketika sedang mengandung, Butet juga tetap dipaksa tampil dan dipisahkan dari anaknya.
“Saat hamil pun saya dipaksa tetap tampil. Setelah melahirkan, saya dipisahkan dari anak saya, saya tidak bisa menyusui. Saya juga pernah dijejali kotoran gajah hanya karena ketahuan mengambil daging empal,” ungkap Butet sambil menahan tangis.
Butet pun mengungkapkan bahwa selama hidupnya ia tidak pernah mengetahui identitas aslinya, baik itu nama, keluarga, dan usia karena sudah ditempa sebagai pemain sirkus sejak kecil.
Kini, para korban menuntut keadilan dan perlindungan hukum dari negara. Mereka berharap pemerintah dan masyarakat membuka mata terhadap praktik pelanggaran HAM yang terjadi di balik dunia hiburan sirkus yang selama ini dianggap menghibur namun menyimpan duka yang dalam./Ib.





