In Memoriam Advent Bangun: Dari Tak Terkalahkan Hingga Tolak ‘The Raid’

by -4,712 views

 

JAKARTA, Voicemagz.com – Wajah keras itu kerap menghias layar kaca di era 80 hingga 90an. Mata elangnya yang tajam menjadi ciri khasnya dan begitu melekat di benak para penikmat film laga di era itu.

Siapa yang tak kenal sosok Advent Bangun saat itu. Pria asal Kabanjahe, Sumatera Utara, 12 Oktober 1952 ini memang aktor laga kawakan.

Dia tidak sembarang aktor laga, sebelum menjadi aktor dia ahli bela diri karate. Sebelum terjun di dunia film, Advent Bangun atlet karate nasional. Awalnya, ia bergabung dengan perguruan karate INKAI. Kerena sulit bersaing di tingkat nasional, lantaran perguruan INKAI tidak diakui oleh FORKI, maka Advent kemudian bergabung dengan perguruan karate INKADO.

Karir atletnya pun langsung moncer. Tahun 1971, Advent menjadi juara nasional karate dan selama 12 tahun berturut turut terus menjadi juara satu nasional tanpa ada yang mengalahkan sampai dia meninggalkan karier karatenya.

Setahun kemudian ia tampil di berbagai kejuaraan tingkat dunia hampir di seluruh Asia, Amerika dan Eropa.

Bosan dan tidak lagi punya musuh sepadan. Dia kemudian memilih jadi aktor film laga. Tak kurang dari 60 judul film pernah ia perankan.

Di film laga, ia nyaris selalu sebagai pemeran antogonis, dan selalu dipadankan dengan Barry Prima, aktor laga yang juga jago bela diri dalam setiap film laga. Jika keduanya dipadankan, maka akan menjadi jaminan jika film itu akan sukses.

Film pertamanya adalah ‘Rajawali Sakti’ pada tahun 1976, kemudian menjadi pemeran utama bersama Enny Beatrice dalam film ‘Satria Bambu Kuning’ pada 1985, ‘Anita’ di 1984 dan ‘Dendam Jagoan’ di 1986. Film-filmnya sering disutradarai oleh Atok Suharto, Ratno Timoer, dan Sisworo Gautama yang sangat populer pada waktu itu.

Hingga kini, para penggemar film laga bela di era 80-an masih merindukan aksinya. Namun Advent memang sudah 20 tahun menghilang dari dunia film laga dan memilih jadi pendeta.

Hanya lawan mainnya Barry Prima yang masih aktif, itu pun sebagai aktor komedi dan hanya sesekali menjalani adegan laga di beberapa sinetron dan film.

Terlahir dengan nama Thomas Advent Bangun, pria kelahiran Kabanjahe, Sumatera Utara ini sejak kecil mendapatkan didikan keras. Bapaknya, M.P. Bangun yang seorang jaksa sangat ketat menanamkan nilai-nilai disiplin dan kejujuran.

Kesuksesan semula membiusnya hingga suatu saat, sebuah kekuatan doa meluruhkannya dalam pangkuan gereja. Istrinya, Lois Riani Amalia Sinulingga lah yang selalu bergumul dalam doa hingga pertobatan tumbuh di hati Advent Bangun.

Sebagai seorang pendeta, dengan nama barunya Pendeta Muda Thomas Bangun, ia juga mempunyai karunia khusus dalam pelepasan dan penyembuhan. Banyak orang yang diselamatkan jiwa dan raganya.

“Dulu saya memang orang yang emosian. Kalau dulu ditantang berantem sih, sudah saya hajar langsung tanpa ampun. Sekarang sudah jadi pendeta ya beda, lebih belajar mengasih,” kata Advent beberapa waktu lalu.

Ia mengaku tak menyesal dengan pilihannya meninggalkan dunia karate dan perfilman yang telah membuatnya terkenal. Sinar matanya yang tajam menyiratkan perasaan bahagia menjalani hidupnya sekarang ini sebagai pendeta dan mengurus keluarga.

“Hidup ini kan seperti uap air. Sebentar ada, lalu hilang. Makanya, mengalir saja sekarang,” ujarnya.

Advent juga punya cerita yang mengejutkan. Ia ternyata sempat dibujuk sutradara Gareth Evans untuk bermain dalam film ‘The Raid’ yang kemudian dibintangi Iko Uwais itu.

Namun, ia menolak. Padahal, tawaran honornya menggiurkan. Tak hanya menelepon, sutradara asal Wales itu bahkan sampai bolak-balik menyambangi rumahnya untuk bernegosiasi.

“Dia terus membujuk. Tawaran uangnya cukup besar lho. Tapi saya tolak,” ungkapnya.

Soal berapa nilainya, ia mengelak untuk menyebut.

“Ah, itu rahasia dialah, nggak enak,” hindarnya.

Namun, ketika didesak, apakah sampai angka ratusan juta, Advent pun mengiyakan.

Kini, setelah tahu filmnya meledak luar biasa, bahkan mendapat sambutan hangat di berbagai negara, menyesalkah Advent? Ia menggeleng mantap.

“Dari tahun 1976 saya sudah main lebih dari 60 judul film. Sinetron sudah nggak terhitung. Tahun 2000 sudah stop semua,” katanya.

Dan setelah lama tak terdengar, kabar terakhir menyebut jika Advent tengah dirawat di Rumah Sakit Fatmawati, Jakarta. Ia menderita penyakit gagal ginjal.

Sang istri menjelaskan jika Advent menderita diabetes sejak tahun 2005, sedangkan prosedur cuci darah berlangsung sejak bulan April tahun 2017. Dalam seminggu, Advent bisa dua kali cuci darah. Namun ia sendiri belum bisa memastikan apa penyebab suaminya menderita gagal ginjal.

Jenazah Advent sendiri akan dimakamkan besok, Minggu (11/2) pukul 14.00 WIB di Taman Pemakaman Umum Kampung Kandang, Jagakarsa, Jakarta Selatan.

“Dimakamkan besok pukul 14.00 WIB dari rumah, sebelumnya pukul 13.00 WIB akan dilaksanakan kebaktian terlebih dahulu,” ujar Harun Tambun, keponakan Advent di rumah duka Jl. Kecapi II No.64, Jagakarsa, Sabtu (10/2).

Selamat jalan om Advent..jejak langkahmu di perfilman nasional tak bakal terlupakan. (NVR – dari berbagai sumber)

No More Posts Available.

No more pages to load.