Mngenang Hari Film Nasional Mengenang Karya Legendaris H Usmar Ismail

oleh
oleh

Oleh: Sonny Pudjisasono

JAKARTA, VOICEMAGZ.com – Hari film Nasional (HFN) diperingati setiap tanggal 30 Maret sebagai momentum bersejarah bagi bangsa indonesia.

Mengingat tanggal tsb merujuk pada hari pertama pengambilan gambar pembuatan film Darah dan Doa, karya Bapak Perfilman Indonesia/Pahlawan Nasional, Bapak H.Usmar Ismail, pada tahun 1950.

Film ini dinilai sebagai film lokal pertama yang bercirikan Indonesia dan diproduksi sepenuhnya oleh orang Indonesia.

Pada tahun 2026, Peringatan Hari Film Nasional memasuki usia yang ke-76. Diusia yang semakin matang ini, industri perfilman indonesia terus menunjukan pertumbuhan yang signifikan, baik dari segi kuantitas produksi maupun apresiasi peran serta masyarakat penontonnya.

Namun, dibalik gemerlap kemajuan tersebut. Terdapat satu isue krusial yang sering terabaikan dan kini berada dalam kondisi darurat: Penyelamatan Pengarsipan Film Nasional.

Film bukan sekedar hiburan; ia adalah merupakan ekpresi budaya suatu bangsa, ia adalah artefak budaya, merekam sejarah, dan cerminan identitas bangsa yang merekam suara, merekam kegelisahan dan sekaligus harapan pada masanya.

Merayakan Hari Film Nasional bukan sekedar memutar karya film legendaris, melainkan menjadikan film Darah dan Doa sebagai titik tolak: Penyelamatan Pengarsipan Film Nasional. Film tidak sekedar media tontonan hiburan semata, akan tetapi film merupakan ekpresi budaya bagi suatu bangsa pada masanya.

Film Usmar (1950) bertahan nyaris utuh karena seluloidnya diselamatkan, banyak judul lain menguap: hilang, Lapuk, atau hanya tinggal kliping. Itu bukan romantisme, akan tetapi itu peringatan.

Film Darah dan Doa bukan monumen. la bukti bahwa film adalah dokumen republik sehari-hari. Bila negatifnya rusak, kita kehilangan cara menonton diri sendiri.

Maka Hari Film Nasional tahun ini relewan kita rayakan dengan tindakan :
menonton,rawat, dan teruskan. Banyak karya sinema klasik indonesia yang kini dalam kondisi memprihatinkan, rusak dimakan usia, hilang atau tersimpan tanpa standar preservasi yang memadai.

Kehilangan pengarsipan film nasional berarti kehilangan jejak visual sejarah bangsa. Menyadari urgensi tersebut, Yayasan Pusat Perfilman H.Usmar Ismail mengundang peran serta masyarakat perfilman nasional dan pemerintah untuk bersama menjadikan gerakan penyelamatan pengarsipan film nasional.

Tindakan nyata untuk merawat ingatan kolektif bangsa, “melihat Indonesia” melalui gerakan penyelamatan pengarsipan film nasional.

Kita bangga dengan pencapaian film indonesia saat ini: Jutaan penonton,festival film besar, pasar film baru, telenta muda yang terus muncul. Tetapi semua itu tidak ada artinya dimasa depan jika kita tidak bisa menjamin bahwa karyakarya ini akan tetap dapat dilihat oleh anak cucu kita.

Apa gunanya film ditonton 5 juta orang hari ini jika 10 tahun lagi ia hilang tanpa jejak? Karena kita lalai untuk pengarsipan film?

Indonesia adalah negara yang kaya artefak, budaya, dan sejarah dan saya tau ada banyak perhatian pada bendabenda bersejarah, dokumentasi, dan koleksi masa lalu.

Tetapi film adalah juga sebuah artefak, film adalah juga benda bersejarah. la merekam cara sebuah bangsa memandang dirinya sendiri. la menyimpan suara, bahasa,

kegelisahan dan harapan dari generasi tertentu. la mempunyai kekuatan besar, tapi disisi lain ia rapuh, sangat rapuh.

Jika tidak ada strategi nasional untuk penyelamatan pengarsipan film nasional, maka setiap tahun akan ada bagian dari sejarah kita yang hilang. Bukan karena dicuri, bijkan karena dirusak, akan tetapi kita sendiri yang tidak peduli untuk melakukan pengarsipannya.

Sudah saatnya pemerintah negara kesatuan republik indonesia menempatkan pengarsipan film nasional sebagai prioritas kebudayaan.

Harapannya bukan sekedar regulasi, tetapi investasi jangka panjang. Infrastruktur, laboratorium preservasi, restorasi, digitalisasi, dan yang terpenting adalah komitmen untuk menjaga memori kolektif bangsa.

Negara yang tidak memiliki pengarsipan film bjkan hanya negara yang kehilangan sejarah, tetapi negara yang tidak percaya bahwa masa depannya layak dibentuk dengan ingatan yang benar.

Demikian secara singkat paparan disampaikan,terima kasih.
Sonny Pudjisasono,SH.MBA
Ketua Y.Pusat Perfilman H.Usmar Ismail.

No More Posts Available.

No more pages to load.