Musik Pop Sebagai Proses Budaya

by -2,730 views

YOUKI-JOGJADialog Bersama Yockie Suryoprayogo & Tommy Pratama
Kampayo (keluarga Artis dan Musisi Panggung Yogyakarta) yang mulai bulan juli 2013 kemarin memanfaatkan area terbuka XT Square (eks terminal Umbulhardjo yang disulap menjadi pusat kerajinan, wisata kuliner dan hiburan). Membuka ruang apresiasi bagi para musisi dan pelaku seni di Yogyakarta. Dengan stage rendah ukuran 6m x 4m banyak kegiatan musik dan seni yang sudah digelar disana. Pada hari Sabtu 31 Agustus 2013 ini, Kampayo mengundang tokoh musik senior yang telah banyak memberi kontribusi terhadap perkembangan musik nasional Yockie Suryoprayogo, didampingi seorang promotor kondang Tommy Pratama dari Original Production yang sering mendatangkan artis artis dan musisi mancanegara.

Pada sabtu malam seperti biasa panggung Kampayo XT diisi oleh komunitas Jogja Blues Forum yang menampilkan line up para blueser jogja untuk ber apresiasi dengan dialektika blues gaya jogja. Ketika jam menunjukkan pukul sepuluh malam saat grup terakhir mengakhiri lagu blues nya, sesi ngobrol ngobrol pun dimulai. Indro Kimpling Suseno sang ketua Kampayo mengawali obrolan sementara disamping kanan nya duduk Tommy Pratama, disamping kirinya Yockie Suryoprayogo dan disebelah Yockie Suryoprayogo, penulis ikut memandu jalannya obrolan.

Obrolan dibuka dengan review tentang seorang Yockie Suryoprayogo sebagai tokoh musik Indonesia. Diawal pengantar pembicaraannya mas Yockie menjelaskan permasalahan krusial tentang profesi seniman atau musisi yang perlu dilegitimisasi dan di kawal oleh suatu produk hukum normatif. Yang artinya secara global proses kreatif seorang musisi harus terposisikan secara jelas dan diperhitungkan proposional sebagai bagian dari elemen atau aset industri kreatif. Terjadi disparitas yang tinggi dimana nilai elemen produksi penunjang karya musik (instrument musik, peralatan audio, peralatan panggung dsb) mengalami kenaikan pesat dikarenakan tingkat inflasi dan kurs valuta asing, sementara nilai kreatifitas tidak mengalami kenaikan yang signifikan. Hal ini dikarenakan terjadi pembiaran atau kompromi yang berlebih dari para pelaku musik terdahulu, terutama di era musisi seangkatan mas Yockie Suryoprayogo.

Posisi tawar hak kreatifitas dan karya cipta sangat lemah, karena belum adanya kesadaran etika profesi dan pendampingan hukum normatif yang secara serius diberdayakan. Setiap musisi asik mengeksplorasi dan berkreasi, berlomba lomba untuk mewujudkan idealisme dan impiannya. Walhasil secara kualitas kreatif memang harus diakui, pada jaman itulah musik pop tanah air mengalami era keemasan (golden age), terbukti lagu lagu dari album LCLR (Lomba Cipta Lagu Remaja) tahun 77 dan 78 (kedua album tersebut di aransemen oleh Yockie Suryoprayogo) merupakan musik populer yang mewakili persoalan seluruh generasi muda Indonesia ketika itu. Industri rekaman yang hanya segelintir pada masa itu juga larut dalam situasi dan euforia yang sama. Lupa untuk menaruh hak dan fungsi setiap elemen pada fitrahnya dalam sebuah sistem hukum normatif yang terintegrasi dalam suatu ketata negaraan yang ideal.

Ketika kemajuan tehnologi dan gelombang modernitas yang ditumpangi budaya asing mulai masuk dengan pesat. Maka sadarlah mereka bahwa ada yang luput dari perhatian dan berakibat cukup fatal dalam membentuk ruang wacana apresiasi seni bagi generasi kedepannya. Landasan budaya pop Indonesia telah dibangun oleh para maestro kita, namun “supra struktur” (meminjam istilah mas Yockie) lupa di kondisikan, sehingga infrastruktur dibuat tanpa desain yang mengakar pada nilai-nilai lokal dan semangat bangsa Indonesia. Semua serba artifisial dan personal minded, proses menjadi tidak penting ketimbang hasil. Semakin lama generasi semakin ahistori dan melupakan landasan nilai-nilai budaya pop kita, generasi masa kini semakin asik sendiri dengan persoalannya dan lupa bahwa kita hidup dalam sebuah persoalan besar yang semakin lama semakin menggilas kita dalam deru percepatan arus globalisasi dijaman milenium ketiga ini.

Uraian mas Yockie di hentikan untuk mengambil perspektif dari seorang pelaku industri promotor kelas dunia. Tommy Pratama giliran angkat bicara. Dunia pertunjukkan merupakan bisnis yang padat modal, semua harus dikalkulasi secara benar dan bertujuan profit. Ketika pertunjukkan melibatkan artis mancanegara segala hal sudah sangat jelas dan profesional, yang artinya prediksi untung dan rugi sudah mudah terbaca termasuk resikonya. Nilai pembiayaan produksi dan harga artis sudah sangat proposional. Di beberapa negara Asia saja, ujar mas Tommy, fasilitas dan infrastruktur pertunjukkan sudah sangat siap dan itu didukung oleh regulasi pihak pemerintah negara tersebut. Sehingga para pelaku seni nya pun bisa total mengeksplorasi kreatifitas nya tanpa harus diribetkan dengan masalah-masalah yang pragmatis. Nah! tampaknya lagi-lagi pemerintah kita yang perlu disalahkan.

Apakah benar persoalan ini karena salah urus di tatanan negara kita? Mas Tommy menjelaskan kebutuhan yang mendasar adalah sarana gedung pertunjukkan. Di negara-negara Asia gedung pertunjukkan berkapasitas lebih dari 40 ribu penonton dan dengan standar gedung pertunjukan kelas dunia sudah disediakan oleh pemerintah masing-masing. Sementara di negara kita dengan jumlah penduduk ratusan juta jiwa tidak ada satupun gedung yang memenuhi standar, apalagi kelas dunia.

Namun mas Yockie secara fair tidak semata-mata menyalahkan pemerintah. Menurut mas Yockie ini kulminasi dari kelalalaian generasi mereka dahulu untuk membentuk kesadaran profesi yang bertujuan menaikkan harkat dan martabat profesi musisi atau seniman. Agar posisi musisi tidak semata-mata hanya dianggap sebagai pengamen yang bisa diusir seenaknya. Habis manis sepah dibuang dan menjadi sapi perah sebuah industri musik. Pertama tama, lanjut mas Yockie, kita harus sepakat dan bersama-sama membangun kesadaran tersebut sehingga akan tertuang dan terlegitimasi dalam produk hukum normatif. Sehingga jelas hak dan kewajiban dari seorang musisi terhadap bangsa dan negara nya.

Ini harus dibangun secara masif dan menjadi konsensus bersama sehingga pemerintah wajib memenuhi hak-hak dan tuntutan yang layak dari musisi atau seniman. Kehadiran mas Yockie di Yogya ini juga dalam rangka mengajak para pelaku seni dan musisi lokal untuk berdialog dan merumuskan bagaimana suprastruktur itu dikondisikan sesuai dengan karakter budaya lokal masing masing.

Karena permasalahan itu sangat kompleks dan akan sangat panjang bila diuraikan, mas Indro Kimpling menginterupsi obrolan dengan memberi kesempatan kepada pengunjung untuk bertanya. Sulis salah seorang pengunjung yang mengagumi mas Yockie bertanya, bagaimana proses kreatif pembuatan album soundtrack Badai Pasti Berlalu yang dianggap sangat fenomenal tersebut. Mas Yockie menjelaskan bahwa itu harus dilihat secara kontekstual, pada era tahun 70an musik pop Indonesia kenyataannya adalah konsumsi kelas marjinal (maaf) hanya golongan buruh dan pembantu rumah tangga yang mendengarkan musik pop Indonesia. Tantangan nya adalah bagaimana menaikkan derajat lagu pop Indonesia agar bisa didengar oleh kaum menengah keatas terutama generasi muda nya.

Pertama tama adalah memahami akar budaya bangsa kita yang menurut mas Yockie mirip dengan kultur Eropa yang Monarki, jenis musik Romantik yang mengakomodir gaya bahasa personifikasi dan penuh metafora itu sangat cocok dengan nilai nilai budaya Nusantara. Perasaan hati diungkapkan dengan simbol simbol dan kalimat yang puitis. Beda dengan kultur Amerika, tandas mas Yockie, karena Amerika liberal dan negara kaum imigran. Jadi kelugasan dan kebebasan gaya Amerika sangat tidak cocok dengan akar budaya kita. Hal selanjutnya adalah menginterprestasikan persoalan dan situasi pada saat itu dalam komposisi musik diatonis, tentunya dengan keahlian musikal yang terukur.

Jadi kesimpulannya ketika kita bicara kebudayaan dalam konteks musik populer artinya adalah musik pop yang mengambil semangat situasi realita hari ini di sekitar kita berdasarkan nilai-nilai dasar kultur lokal. Karena budaya itu berkembang maka akan konyol ketika kita bicara kebudayaan kita hanya sibuk membahas seni tradisi dan peninggalan warisan nenek moyang saja. Apa yang terjadi dan yang kita lakukan hari ini adalah proses kebudayaan, dan bagaimana kreatifitas kita mengimplementasikan peristiwa tersebut kedalam karya musik, itulah produk budaya populer.

Mas Tommy Pratama juga menambahkan bahwa itu semua menjadi tugas dan tanggung jawab kita bersama dari segala pihak yang terkait dalam dunia musik dan kesenian. Memang dibutuhkan waktu yang tidak sebentar. Pihak promotor pun akan memposisikan diri sebagai elemen yang berkepentingan bagi para pelaku seni dan siap mendukung untuk merealisasikan gagasan tersebut. Nah, ini mungkin sebuah janji dari kita semua yang peduli pada perkembangan dunia seni dan musik tanah air.

Walau hanya obrolan di sudut pelosok tanah air kota Jogya, namun sebuah kesadaran yang dilandasi dengan ketulusan pasti akan menggulirkan sesuatu peristiwa penting dibelakang hari, Wallahualam. Sesi obrolan diakhiri dengan meminta mas Yockie menunjukkan keahliannya bermain keyboard. Intro lagu “Angin Malam” dimainkan dengan manis dan sangat menyentuh sehingga mengundang para penonton untuk bangkit mendekati panggung. Kelincahan jemari mas Yockie yang mendekati usia 60 tahun itu belum nampak rentan.

Tuts piano elektrik Rolland RD 700 yang disiapkan khusus di panggung seolah menyerap energi kreatifitas nya yang tak henti dilekang jaman. Indonesia memang harus bangga mempunyai seniman sekaliber Yockie Suryoprayogo yang masih peduli dan gelisah demi perkembangan dan nasib dunia musik tanah air kita kedepannya.
Bravo Mas Yockie! semoga Jogja yang istimewa ini bisa menjadi landasan untuk melontarkan gagasan gagasan besar mu. Amien …

Salam Budaya …

Janturan 1 September 2013
Jogja Never Ending Creativity
Heri Machan

Leave a Reply

No More Posts Available.

No more pages to load.