JAKARTA, VOICEMAGZ.com – Memasuki usia kelima dalam perjalanannya, band The Lantis yang populer lewat tembang Lampu Merahitu secara resmi mengumumkan penambahan dua personel inti untuk melengkapi formasi mereka.
Vio (drum) dan Feisal (kibor), yang sebelumnya masih berstatus session player, kini telah sah menyandang status sebagai personel tetap bersama Giri (bass, vokal), Ravi (gitar, vokal), dan Ojan (gitar).
Langkah ini diambil bukan tanpa alasan yang kuat. Selama ini, The Lantis dikenal dengan format tiga orang yang mengandalkan bantuan musisi pendukung saat beraksi di atas panggung. Namun seiring berjalannya waktu, terdapat ruang kosong yang dirasakan, terutama dalam aspek kedalaman aransemen dan visi artistik band secara kolektif.
Perubahan ini pun dianggap sebagai titik balik bagi The Lantis untuk keluar dari zona nyaman dan mengeksplorasi spektrum musik yang lebih luas.
Adapun Ravi mengatakan, keputusan untuk meresmikan formasi baru ini didasari oleh perasaan kehilangan identitas sebuah band yang utuh. Menurutnya, format trio yang dijalani selama ini mulai terasa kurang maksimal dalam memberikan nyawa pada karya-karya mereka.
“Seiring berjalannya kita bertiga, kita mulai ngerasa kalau ada yang kurang. Kayak kurang band aja gitu,” kata Ravi dalam keterangannya, Senin, 4 Mei.
Senada dengan Ravi, Ojan menambahkan, kehadiran Vio dan Feisal memberikan dampak signifikan bukan hanya saat penampilan langsung, melainkan juga dalam dapur kreativitas. Ada percikan ide-ide baru yang muncul ketika mereka mulai menggarap materi bersama.
Keterlibatan emosional dan musikal yang terbangun sejak proses produksi hingga panggung inilah yang meyakinkan mereka bahwa Vio dan Feisal adalah potongan puzzle yang selama ini dicari.
“Ada satu titik dimana kita ngerasa ada yang kurang lengkap, bukan secara live karena mereka udah sering bareng kita di gigs, tapi lebih ke proses kreatifnya, aransemen ataupun konsep secara general,” ujar Ojan.
“Dan pas kita mulai nulis bareng berlima, kita sadar sparks-nya balik lagi,” sambungnya.
Kedekatan personal juga menjadi fondasi utama dalam perekrutan ini. Giri menjelaskan, proses pemilihan personel tidak hanya didasarkan pada kemampuan teknis semata, tapi juga faktor sejarah pertemanan yang panjang.
Feisal merupakan teman masa kecil sekaligus tetangga dari personel awal, sementara Vio adalah rekan Ojan sejak masa SMA. Hubungan itulah yang membuat chemistry di antara mereka tidak perlu dibangun dari nol lagi.
Bagi Vio dan Feisal, transisi dari musisi pendukung menjadi personel inti merupakan sebuah tanggung jawab besar sekaligus pencapaian pribadi. Vio yang mulai aktif mengisi posisi drum sejak 2024 merasa tawaran ini merupakan bentuk apresiasi atas kinerjanya selama ini.
“Rasanya kayak dari staf menjadi jajaran direksi. Pastinya happy, puas karena performa kami waktu jadi session mereka akhirnya diterima dengan baik,” kata Vio.
Di sisi lain, Feisal memiliki cerita yang berbeda. Sebagai seorang pekerja kantoran yang sebelumnya membagi waktu untuk membantu The Lantis, ia memerlukan pemikiran mendalam dan restu keluarga sebelum akhirnya memutuskan untuk berkomitmen penuh pada band ini. Ia merasakan adanya keterikatan batin yang berbeda saat bermain bersama The Lantis dibandingkan saat ia bekerja sebagai musisi pendukung untuk proyek musik lainnya.
Setelah merilis album “Pilot” (2021) yang kental dengan nuansa retro, serta album “Pancarona” (2024) yang lebih eksploratif, The Lantis kini menatap masa depan dengan optimisme baru. Perubahan formasi ini menandai berakhirnya fase pencarian identitas selama lima tahun pertama dan dimulainya babak baru yang lebih matang dan dewasa secara musikalitas.
“Lima tahun pertama The Lantis adalah fase pencarian, pembentukan, dan pengenalan. Sekarang waktunya kita buat beneran mulai. Semoga dari sini makin banyak mimpi-mimpi yang bisa kita capai, makin banyak telinga-telinga yang bisa kita rayu, dan makin banyak hati yang bisa kita sentuh,” pungkas Ravi./Eds. Foto: Istimewa.







