Ahmad Albar Hingga Ardhito Pramono Nyanyi Bareng Lagu “Hari Merdeka” Aransemen Erwin Gutawa

oleh
oleh

JAKARTA, VOICEMAGZ.com – Lagu “Hari Merdeka” kembali mendapat sentuhan baru. Lagu ciptaan Husein Mutahar yang lahir pada 1946 itu diaransemen ulang oleh Erwin Gutawa dengan melibatkan penyanyi dari berbagai generasi.

Proyek ini menjadi bagian dari langkah Kementerian Kebudayaan untuk mendekatkan kembali lagu nasional dan lagu perjuangan kepada masyarakat, terutama generasi muda. Kali ini, “Hari Merdeka” tidak hanya hadir sebagai lagu yang akrab dalam perayaan kemerdekaan, tetapi dikemas dengan warna musik yang lebih sesuai dengan pendengar masa kini.

Sejumlah penyanyi ikut ambil bagian dalam versi baru tersebut. Mereka adalah Ahmad Albar, Ardhito Pramono, Harvey Malaihollo, Judika, Novia Bachmid, Rita Butar Butar, Ruth Sahanaya, Shabrina Leanor, Titiek Hamzah, dan Vina Panduwinata.

Keterlibatan musisi lintas generasi menjadi salah satu daya tarik dalam penggarapan ini. Erwin Gutawa mencoba mempertemukan karakter suara dan pengalaman musikal yang berbeda tanpa menghilangkan ruh dari lagu yang memiliki kaitan erat dengan sejarah perjuangan Indonesia tersebut.

Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengatakan upaya seperti ini diperlukan agar lagu-lagu nasional tetap digunakan dan dikenal di tengah perubahan selera musik masyarakat.

“Saat ini Indonesia memerlukan lagu-lagu kebangsaan yang semakin relevan, semakin disukai, semakin digunakan.”

Menurut Fadli, masyarakat kini memiliki pilihan musik yang jauh lebih beragam. Lagu Indonesia, musik pop, hingga berbagai genre lainnya mudah ditemukan dan didengarkan. Kondisi tersebut membuat lagu perjuangan perlu terus diperkenalkan dengan cara yang lebih dekat dengan generasi sekarang.

Fadli juga menilai lagu nasional memiliki nilai yang lebih luas daripada sekadar karya musik. Di dalamnya terdapat cerita mengenai perjalanan Indonesia dan orang-orang yang terlibat dalam perjuangan bangsa.

“Lagu-lagu tersebut tidak hanya memiliki nilai musikal, tetapi juga menyimpan cerita mengenai perjalanan bangsa dan tokoh-tokoh yang turut berjuang pada masanya.”

Aransemen baru “Hari Merdeka” juga disebut sebagai awal dari rencana yang lebih besar. Kementerian Kebudayaan membuka kemungkinan menghadirkan lagu-lagu perjuangan lainnya dalam format kolaborasi serupa.

“Jadi bukan hanya (lagu) ini. Lagu Hari Merdeka mungkin permulaan. Jadi lagu Syukur, Dari Sabang Sampai Merauke, dan yang lain-lain, kalau dinyanyikan oleh maestro-maestro lintas generasi, pasti akan menarik. Kita berharap nanti Kementerian Kebudayaan mengadakan penciptaan lagu-lagu nasional, lagu-lagu yang berbau nasionalisme dan patriotisme baru,” ungkap Fadli.

Bagi Erwin Gutawa, menggarap kembali lagu perjuangan juga berkaitan dengan bagaimana pesan di dalamnya tetap bisa dirasakan oleh pendengar hari ini.

“Lagu-lagu bertema nasionalisme, utamanya lagu perjuangan, sudah sepatutnya memiliki tempat yang istimewa, karena kandungan sejarahnya. Dengan aransemen baru “Hari Merdeka” & kolaborasi dengan penyanyi lintas generasi ini, saya berharap bisa menjadi pengingat sekaligus penyemangat akan makna-makna perjuangan dan kemerdekaan, serta menyentuh seluruh lapisan generasi di masa kini.”

Versi baru “Hari Merdeka” tersebut telah diluncurkan perdana melalui TVRI. Masyarakat juga dapat menyaksikannya melalui kanal YouTube Kementerian Kebudayaan.

Karya ini diharapkan menjadi langkah awal untuk memperkenalkan kembali lagu-lagu nasional Indonesia. Dengan aransemen yang lebih segar dan kolaborasi antargenerasi, lagu-lagu tersebut diharapkan tetap hidup, tidak hanya sebagai bagian dari sejarah, tetapi juga sebagai musik yang masih didengarkan hingga sekarang./Eds.

No More Posts Available.

No more pages to load.