Cegah ODOL, Scanning X-Ray dan Metal Detector Segera Diberlakukan di Pelabuhan

by -2,024 views

JAKARTA, VoiceMagz.com – Beruntunnya sejumlah kecelakaan kapal di Indonesia belakangan ini, mulai dari tenggelamnya Kapal Motor (KM) Sinar Bangun di Danau Toba, Sumatera Utara hingga KM Lestari Maju di perairan Selayar, Sulawesi Selatan menimbulkan sebuah pertanyaan besar. Sudah sejauh mana aturan dibuat untuk mengantisipsai kecelakaan di laut?

Kementerian Perhubungan (Kemenhub) menyebut, sebenarnya sudah banyak aturan dibuat oleh pihaknya selaku regulator untuk mengantisipasi terjadinya kecelakaan di laut. Namun dalam realisasinya, aturan itu masih belum efektif dijalankan.

“Aturannya sudah lengkap, tinggal bagaimana penegakan hukum dan implementasinya. Saya minta implementasi peraturan dilaksanakan,” ujar Dirjen Perhubungan Laut Kemenhub, Agus Santoso di sela-sela Diskusi Interaktif dan Coffee Morning di kantor PT Pelni, Jakarta, Rabu (15/8).

Pihaknya, lanjut Agus akan semakin fokus meningkatkan kemananan angkutan laut dengan menerapkan scaning atau penyaringan menggunakan X-Ray dan metal detector saat penumpang dan barang masuk ke pelabuhan dan kapal.

Diskusi Interaktif dan Coffee Morning di kantor PT Pelni.

Dalam kesempatan tersebut, Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Lalu Lintas Laut Kemenhub, Wisnu Handoko, menyebutkan standarisasi yang diterapkan di bandara dan stasiun itu akan diuji coba di Pelabuhan Merak dan Pelabuhan Tanjung Priok terlebih dulu.

Pelabuhan Tanjung Priok tetap diuji coba karena meski terlihat sudah sesuai standar, tapi masih juga kerap kebobolan saat penyaringan.

“Nanti akan ada pilot project di Tanjung Perak dan Tanjung Priok. Kalau penyeberangan misalnya di Merak-Bakauheni dan Gilimanuk itu dulu aja, tapi benar-benar kita awasi bersama,” tandas Wisnu.

Hal senada juga diungkapkan Direktur Armada PT Pelni, M Tukul Harsono. Ia melihat, penerapan standar penyaringan barang dan penumpang di pelabuhan seperti yang dilakukan di bandara dan stasiun bisa diterapkan.

“Kecelakaan di laut mayoritas penyebabnya karena kelebihan barang dan penumpang atau yang biasa kita sebut Over Dimensi, Over Load (ODOL),” ujar Tukul.

Dicontohkannya, kebakaran kapal yang kerap terjadi disebabkan adanya muatan berbahaya yang lolos masuk ke kapal seperti batubara dan LPG ke dalam kapal.

“Yang sering kecolongan khususnya barang-barang pengiriman lokal, karena kalau barang ekspor impor telah melalui pengecekan oleh bea cukai. Belum lagi muatan disusun tinggi di dek atau palka, tidak ada yang mengatur,” beber Tukul.

Oleh karenanya, guna mencegah hal serupa terjadi kembali, Pelni, ucapnya, mendukung rencana pemerintah memperketat aturan di pelabuhan layaknya di bandara dan stasiun bagi penumpang maupun barang dengan pengecekan menggunakan X-Ray dan metal detector. (NVR)

No More Posts Available.

No more pages to load.