Di ‘Lima’, Lola Tak Mau Terjebak Pada Hal Ini

by -1,434 views

JAKARTA, Voicemagz.com – Mengambil tema penerapan dan pengamalan Pancasila pasti dekat dengan stigma propaganda. Hal ini pun menjadi sebuah konsern Lola Amaria selaku produser film ‘Lima’. Film ini memang dekat dengan aplikasi dasar negara Indonesia.

Lola mengaku tak ingin terjebak dengan stigma tersebut. Oleh karenanya, ia ingin film bertema Pancasila ini menjadi sebuah film yang lebih memotret pada aplikasi kehidupan sehari-hari.

“Hampir semua sineas akan merasa sangat takut jika filmnya hanya menjadi film propaganda. Inilah tantangan besarnya. Film ini bukan film visualisasi Pancasila yang penuh dengan adegan heroik. Film ini adalah film keluarga yang berjuang menanamkan dan mengajarkan nilai-nilai luhur Pancasila dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Lola di Jakarta, Selasa (30/1).

Lalu, apakah film ini akan menampilkan sisi idealis atau harus berkompromi dengan sisi komersial?

“Dalam proses pembuatan film ini, saya bebaskan sutradara-sutradaranya untuk menggarap ini tanpa tekanan, kerja sesuai passion. Nanti kalau sudah selesai, baru kita bicrakan soal sisi komersialnya,” ucap Lola.

Untuk diketahui, film yang segera masuk tahap syuting ini disutradarai lima sutradara muda yang terlibat dalam film ini yaitu Shalahuddin Siregar, Tika Pramesti, Lola Amaria, Harvan Agustriansyah dan Adriyanto Dewo.

Kolaborasi kelimanya ini akan membuat film ini memiliki lima cerita yang berbeda yang mewakili masing-masing sila, namun dalam satu plot besar. Kerjasama kelima sutradara dalam satu film ini akan menjadi tantangan tersendiri.

Film ini juga akan menjadi menarik secara teknis karena latar belakang lima sutradara ini berbeda-beda. Shalahuddin Siregar selama ini dikenal sebagai sutradara untuk film-film dokumenter (Negeri di Bawah Kabut, Nokas). Tika Pramesti banyak berkecimpung dalam video klip, iklan komersial dan film pendek (Sanubari Jakarta).

Lola Amaria dikenal luas sebagai sutradara dan produser dengan film-film dengan tema sosial yang kuat (Minggu Pagi di Victoria Park, Negeri Tanpa Telinga, Jingga). Sebagai sutradara Harvan Agustriansyah pernah meraih berbagai penghargaan internasional untuk film pendeknya yang berjudul Pangreh.

Sementara Adriyanto Dewo pernah meraih penghargaan piala Citra FFI sebagai sutradara terbaik untuk film Tabula Rasa. Kolaborasi kelimanya akan membawa penonton pada sebuah film yang akan kaya secara estetik. Film ini sebagian besar pemeran utamanya memiliki karakter yang sangat kuat untuk genre film drama. Prisia Nasution misalnya, sebagai peraih piala pemeran wanita dalam film Sang Penari, bukan nama asing lagi dalam peran-peran yang membutuhkan karakter kuat.

Begitu pula dengan Yoga Pratama (pemeran pembantu dalam film Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak) dan Tri Yudiman (Toba Dreams, Sabtu Bersama Bapak dan Bunda) juga menjadi bintang karena kemampuan akting dan karakternya yang memukau.

Ketiganya akan dilapis oleh Baskara Mahendra (pendatang baru) dan Dewi Pakis (malang melintang dalam dunia teater melalui Bengkel Teater Rendra).

Sementara itu, naskah film ini dikerjakan Titien Wattimena (Minggu Pagi di Victoria Park, Labuan Hati dan Salawaku) dan Sinar Ayu Massie (3 Hari Untuk Selamanya, Sebelum Pagi Terulang Kembali dan Cinta Dari Wamena). Sebagai penulis, Titien dan Sinar telah meraih sejumlah penghargaan di berbagai ajang film festival.

Untuk film ini, Titien dan Sinar Ayu ingin menceritakan sebuah keluarga yang menjadikan Pancasila sebagai nilai-nilai yang mendasari sikap dan perilaku mereka sehari-hari. Namun ternyata menjadi Pancasilais itu sulit.

Dalam pergaulan dengan keluarga, sahabat, tetangga maupun kolega di kantor ternyata mereka menemukan banyak sekali persoalan yang menggugat sikap dan perilaku mereka. Tantangannya tidak kecil dalam setiap keputusan yang mereka ambil. (NVR)

No More Posts Available.

No more pages to load.