Film Pahlawan Tak Pernah Mati Angkat Kembali Nilai Kepahlawanan

by -1,379 views

Mulailah dengan belajar dari sejarah dengan mengenali nilai-nilai keutamaan dan semangat dari sosok pahlawan nasional. Mereka juga adalah manusia, sama seperti kita. Bedanya, mereka adalah orang-orang yang sudah cukup dan sudah selesai dengan dirinya, dan sanggup melampaui rata-rata keutamaan unggul yang dimiliki orang pada umumnya untuk mengabdi kemanusiaan.

Pahlawan bukanlah Ratu Adil. Juga tidak seperti gambaran Nietzsche tentang Übermensch (Manusia Atas) yang meramal mengenai manusia masa depan. Pahlawan sejatinya adalah contoh hidup dari masa lalu yang semangat keutamaannya bisa menjadi teladan yang bertahan melampaui zamannya dan relevan untuk masa kini.

Seperti sebuah film “Pahlawan Tak Penah Mati”, yang berlatar belakang sejarah peristiwa 10 November 1945 yang diproduksi oleh Direktorat Pembinaan Kesenian dan Perfilman, DirJen Kebudayaan Kemendikbud, dengan tema nilai-nilai kepahlawanan tidak berakhir pada hari pahlawan tapi nilai tersebut harus tetap hidup dalam bentuk yang berbeda.

Didasarkan pada pemahaman historis bahwa pada peristiwa penting tersebut rakyat Surabaya bersatu melawan penjajah dengan mengorbankan jiwa dan raganya tanpa pamrih. Tampa menunggu komando atau arahan dari Pemerintah Pusat, masyarakat lokal dari semua unsur bergerak untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Termasuk Bung Tomo, seorang pemuda yang ikut berperan penting menggelorakan semangat rakyat Surabaya melalui pidato-pidatonya di radio pemberontakan Surabaya, yang melatari kisah film ini.

peluncuran-film-pahlawan-tak-pernah-matiFilm “Pahlawan Tak Penah Mati” yang segera tayang di TVRI, Sabtu 14 Desember 2013, mulai pukul 20.00 wib-21.30 wib ini, berkisah tentang Yasmin (Olga Lydia) pemilik stasiun radio swasta peninggalan keluarga. Merasa kalah bersaing dengan radio lain dan merosotnya jumlah sponsor, Yasmin menjadi bimbang, apakah mempertahankan radio ini atau menjualnya kepada investor yang berminat.

Ditengah kebimbangan, Yasmin juga harus memutuskan apakah radionya perlu mengangkat tema khusus untuk peringatan Hari Pahlawan yang jatuh pada 10 November. Namun ia akhirnya bertemu dengan Asvi (diperankan oleh Erwin Cortez) seorang pecinta sejarah, yang mempertemukannya dengan Haryono (Didi Petet). Haryono snediri merupakan salah seorang pelaku sejarah yang terlibat dalam peristiwa 10 November 1945.

Pertemuan inilah yang mendorong Yasmin mendapatkan gambaran lengkap tentang makna Hari Pahlawan, melalui riset dan penggalian langsung lewat pelaku sejarah sesungguhnya, bahwa Pahlawan Tak Pernah Mati. Jaman terus bergerak, dan setiap jaman melahirkan pahlawan. Tak hanya di medan pertempuran, tapi juga diseluruh bidang kehidupan. Sampai akhirnya Yasmin memutuskan tidak akan menjual stasiun radio peninggalan keluarganya itu.

Film yang disutradarai Kiki Broki, dengan penulis skenario Adrian Alovian, serta turut berperan Nungki Kusumastuti sebagai Oma Putri dan Teddy Prangi sebagai Tomi, menjadi media yang mampu mengkomunikasikan nilai-nilai arti kepahlawanan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Belum cukup belajar sejarah dengan hanya menderetkan nama pahlawan nasional sebagai nama bandara atau jalan utama kota. Tapi juga harus mengimplementasikan semangat juang kepahlawanan dalam keseharian untuk merubah kehidupan yang lebih baik. Berhentilah bermimpi dan mendongeng yang kadang menyesatkan nalar dan menciptakan kemalasan berpikir. Kita lebih baik mengasah budi dan menajamkan hati untuk memfokuskan usaha menata masa depan.| Edo

Leave a Reply

No More Posts Available.

No more pages to load.