Film Yang Baik Tak Semata Yang Laris Ditonton

by -2,427 views

JAKARTA, VoiceMagz.com – Ada hal menarik terkait fenomena meledaknya penonton di beberapa film box office (BO) Indonesia. Hal tersebut ternyata bukanlah murni semata karena kualitas film Indonesia semakin membaik.

“Salah satu (penyebabnya) karena ada upaya orang-orang di sekitar film itu, termasuk produser mengkondisikan filmnya,” ungkap sutradara John de Rantau saat menjadi pembicara di ‘Workshop Kritik Film Tingkat Lanjutan’ di Jakarta, Rabu (9/5).

Sutradara film ‘Denias’ dan ‘Wage’ ini di hadapan 40-an wartawan film di acara yang digelar Pusat Pengembangan Perfilman (Pusbangfilm) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) ini juga menegaskan, film yang baik bukanlah film yang laris ditonton.

“Film yang baik harus lepas dari unsur menjiplak. Banyak film yang meledak penontonya, tapi ceritanya jiplak habis dari film-film barat atau drama Korea. Kadangkala sutradara juga tak bisa keluar dari tekanan produser,” papar John yang berbicara soal filosofi kerja sutradara dan semiotika di film.

Hampir senada dengan John, wartawan senior yang juga kritikus film, Salim Said menyebut, tak semua film baik adalah film yang banyak ditonton.

“Bagi saya, film yang baik adalah yang masuk akal,” tegas mantan Dubes Republik Ceko yang kini menjadi pengamat dan penasehat militer dan pertahanan ini.

Ia juga mengungkapkan, ‘dosa’ film Indonesia adalah fakta jika film masih menjadi barang dagangan dan belum menjadi karya seni yang utuh.

“Sejarah film Indonesia itu kotor. Siapa yang bisa menjaga agar (kualitas) film Indonesia semakin baik? Ya..para kritikus film,” tandasnya.

Walau begitu, Salim melihat kualitas film-film Indonesia sudah semakin membaik. Pasalnya, sudah banyak film-film Indonesia saat ini didasari cerita-cerita yang kuat berdasar novel-novel yang best seller dan bukan hanya sekadar dikarang-karang oleh produser seperti yang terjadi di rata-rata film tahun 70-80an.

“Yang bisa menuliskan cerita bagus itu ya seorang story teller alias penulis, bukan produser,” pungkasnya.

Kegiatan workshop tiga hari (9-10 Mei) ini sendiri adalah program lanjutan yang diadakan tahun lalu untuk para wartawan, khususnya wartawan film.

Sejumlah akademisi hingga praktisi di industri perfilman nasional dihadirkan sebagai pembicara. Wartawan senior sekaligus ahli hukum, Wina Armada Sukardi membahas soal hak cipta dalam industri kreatif. Lalu, dosen Institut Kesenian Jakarta (IKJ) dan mantan wartawan Marselli Sumarno mempresentasikan peran institusi pendidikan dalam membangun kritik film. Sutradara John De Rantau bicara soal filosofi kerja sutradara dan semiotika dalam film.

Lalu ada aktris sekaligus dosen psikologi UI, Niniek L Karim yang memaparkan soal pentingnya memahami psikologi bagi kritikus film. Kemudian budayawan dan sastrawan, Remy Silado yang menyoroti sisi kebudayaan dan bahasa dalam film. Lalu mantan wartawan Bre Redana membahas perkembangan teknologi pers dan kritik film.

Sedangkan Prof Salim Said mempresentasikan tentang sejarah perfilman dan perkembangan kritik film di Indonesia dan terakhir, Prof David Hanan, pengajar Monash University, Australia yang lama melakukan penelitian tentang film Indonesia juga dihadirkan dengan materi ‘Keistimewaan Budaya dalam Film Indonesia: Bhinneka Tunggal Ika’. (NVR)

No More Posts Available.

No more pages to load.