Tanpa Kritik, Film Bak Sayur Tanpa Garam

by -1,869 views
Pengumuman pemenang Lomba Kritik dan Artikel Film 2018.

JAKARTA, VoiceMagz.com – Ibarat sayur tanpa garam, film tanpa kritik film akan membuat tak adanya penimbang kualitas sebuah film.

“Kritik bisa membuat kreatornya berinteraksi dengan pengkritik dan penonton filmnya. Seperti sayur tanpa garam. Tanpa kritik, film menjadi hambar,” ujar sutradara John de Rantaus saat pengumuman pemenang Lomba Kritik Film dan Artikel Film 2018 di Studio 7 TVRI, Jakarta, Kamis (6/12).

John yang juga merangkap sebagai anggota dewan juri Kritik Film, bersama Wina Armada, Bre Redana, Remy Sylado, Dr. Maman Wijaya, Dr. Ekky Imanjaya, akhirnya memutuskan Ary Saptaji sebagai pemenang kategori Kritik Film.

Ary dengan tulisan berjudul ‘Surat Terbuka Untuk Marlina’ di film ‘Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak’ mengalahkan 147 dari peserta dalam kategori ini.

Di kesempatan ini,  Ketua Dewan Juri Kritik Film Wina Armada mengatakan, ada kesalahan mendasar pada hampir semua peserta kategori Kritik Film.

“Penggunaan bahasa Indonesia yang masih buruk. Serta terlalu banyaknya penggunaan bahasa asing, yang tidak pada tempatnya. Banyak juga yang menulis dengan menggunakan gaya bahasa milenial, tanpa pemahaman bahasa Indonesia yang memadai,” kata Wina.

Untuk kategori Artikel Film, Dewan Juri Artikel Film 2018 yang beranggotakan Ilham Bintang (Ketua), Benny Benke (Sekretaris), Lola Amaria, Yan Wijaya, Dimas Supriyanto, Sanggupri dan Doddy Budiatma, memilih nama Achmad Muchtar sebagai pemenang.

Dengan tulisan berjudul ‘Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak: Perempuan Menolak Kalah’, Muchtar menyisihkan 47 pesaingnya.

Dewan Juri Artikel Film mencatat terdapat kesalahan mendasar pada hampir seluruh artikel peserta lomba.

Pertama, terdapat kelemahan yang sangat mengganggu pada penggunaan bahasa Indonesia yang belum mencapai taraf yang baik dan benar. Kelemahan itu termasuk pada lima artikel unggulan pemenang.

Kedua, terjadi inkonsistensi pilihan topik artikel dengan pembahasannya. Ketiga, terlihat kemalasan penulis untuk memperbarui) bahan dan data untuk menguatkan argumentasi analisisnya.

Dukungan data yang kurang memadai, untuk tidak mengatakan amat lemah mewarnai hampir semua artikel. Keempat, naskah peserta didominasi kutipan- kutipan berbagai nara sumber yang terkadang kurang relevan dengan topik bahasan.

Terlepas maupun terkait dengan kelemahan peserta Lomba Kritik Film dan Artikel Film 2018, Dr. Maman Wijaya, selaku Kepala Pusbangfilm Kemendikbud RI, mengapresiasi peserta lomba Kritik Film dan Artikel Film 2018 yang membludak dibandingkan gelaran serupa tahun lalu

“Terkumpul 148 naskah kategori Kritik Film dan 48 naskah Artikel Perfilman dari 65 film yang berbeda, yang beredar selama setahun ke belakang,” katanya.

Dia menambahkan, dari sisi kajian, kritiknya beragam. Tidak sekedar menyalin ulang. Tapi juga memberikan masukan kepada pembuatnya.

“Hal ini sejalan dengan program Pusbangfilm Kemendikbud untuk turut memajukan Kritik film di Indonesia,” kata Maman.

Hal senada dikatakan Sekjen Kemendikbud, Didik Suhardi Ph.D. Menurut dia film sebagai produk budaya sarat dengan pesan di dalamnya.

“Kemendikbud, sebagai Kementrian yang turut bertanggung jawab atas perkembangan perfilman, sangat konsern pada ajang ini. Oleh karena itu, ajang Kritik Film ini menjadi penting dan strategis untuk meningkatkan kualitas perfilman Indonesia,” pungkasnya. (NVR)

No More Posts Available.

No more pages to load.