Tantowi Yahya Bawa Lagu-lagu Nusantara Berkumandang di Langit Eropa Lewat Konser “Strings of Equator – musical journey to Indonesia”

oleh
oleh

JAKARTA, VOICEMAGZ.com – Tantowi Yaha dan Thomshell Band  Tuntas merampungkan misi diplomasi budaya bertajuk “Strings of Equator – musical journey to Indonesia” ke tiga (3) negara Eropa, yaitu Denmark, Spanyol dan Belanda.

Semua acara yang digelar di tiga negara tersebut penuh dipadati oleh tamu undangan dari berbagaikalangan, termasuk para diplomat, pejabat setempat dan masyarakat setempat.

“Misi kami menggaungkan nama Indonesia lewat nada dan cerita Alhamdulillah berjalan lancar. Sungguh diluar ekspektasi saya, ternyata pengunjung membludak, “Pecah”. Mereka yang hadir tak hanya sekedar nonton tapi juga ikut larut dalam kecerianaan dengan bergoyang bersama,” kata Tantowi, setibanya di Jakarta, Rabu (9/9).

Tantowi merasa bangga bahwa lagu-lagu daerah di Indonesia yang ia nyanyikan bersama Thomsell Band diapresiasi di oleh masyarakat di benua biru Eropa.

“Waktu di Denmark, Menteri Lingkungan Hidup Norwegia secara khusus hadir, bahkan mereka larut dalam suasana acara, pak menteri ikut berjoget bersama para tamu undangan yang 99% semuanya bule,” lanjut Tantowi.

Yang menarik menurut Tantowi, kekayaan budaya kita ini luar biasa, band dan musiknya sangat beragam, dari Aceh sampai Papua warna dan karakternya berbeda-beda. Inilah yang menjadikan keunikan musik Indonesia.

Dengan memanfaatkan kelihaiannya dalam berdiplomasi dan merangkai kata, kekayan dan keunikan itu oleh Tantowi kemudian dikemas dan dibagikan kepada para pengunjung dengan bungkusan cerita di sela-sela konsernya.

“Di bagian barat, lagu2 daerah di Indonesia dipengaruhi oleh musik2 dari Arab, Melayu, India, Parsia danbahkan China. Musik dan instrumentasi di Betawi sangat kental pengaruh Cinanya. Di bagian tengah dimana pengaruh Kraton dan Gamelan sangatlah dominan melahirkan langgam, salendro dan tangga nada sendiri. Asimilasinya dengan musik Portugis melahirkan Keroncong yang kita banggakan hingga kini. Sementara di Indonesia bagian timur sedikitnya ada 3 pulau besar (Papua, Maluku dan Nusa Tenggara Timur) yang terletak di Samudra Pasifik dengan penduduk mayoritas dari ras Melanesia dan Polinesia. Sebagai akibatnya lagu-lagu di kawasan ini terdengar sangat Pasifik. Mendayu bagaikan angin laut, gembira sebagaimana karakter masyarakat setempat. Pengaruh asing ini adalah peninggalan para pedagang, penyebar agama dan penjajah yang pernah singgah di Nusantara,” terang Tantowi.

Tantowi Yahya boleh jadi bukan orang pertama yang memperkenalkan lagu-lagu daerah Indonesia ke masyarakat Erpo, tetapi harus diakui bahwa Tantowi-lah orang yang mampu menggapai sukses memperkenalkanlagu-lagu tersebut dihadapan penonton yang 99% bule.

Lagu-lagu daerah seperti Cogok Mancogok, Alusiau, Baringin, Lisoi, Janger Bali, Bengawan Solo, Balada Pelaut, Maumere, Poco Poco telah berkumandang di Eropa bersama lagu-lagu Indonesia seperti Nusantara.

“Inilah kekayaan budaya Indonesia yang kami perkenalkan ke dunia. Alhamdulillah sambutan sangat meriah dan positif. Harapan kami misi ini akan berpengaruh secara pariwisata dan investasi secara berkesinambungan,” kata tantowi lagi.

Dukungan dari semuapihak tentu sangat dibutuhkan untuk menggelar acara seperti ini. Oleh sebab itu Tantowi secara khusus mengucapkan terimakasih kepada seluruh pendukung acara.

“Terima kasih kepada Kementerian Kebudayaan, LPDP, Dana Indonesia Raya, Pertamina (persero), BRI (persero), Secret Garden dan YKDK yang telah mendukung misi ini. Apresiasi yang sama kami sampaikan ke KBRI Oslo dan KBRI Denhaag”, tutup Tantowi./Eds.

No More Posts Available.

No more pages to load.