Miliuner Dunia Berlomba-lomba Komersialisasi Industri Angkasa

by -3,185 views

NEW YORK, VoiceMagz.com Wacana membuka kehidupan baru di luar bumi semakin menguat. Rencana mengirim manusia menuju planet Mars pun terus dipersiapkan.

Beberapa miliuner kini tengah berlomba menjadi yang pertama melakukan rencana perjalanan 54 juta km di angkasa bersuhu 100 derajat di bawah nol menuju Mars.

Seperti yang dilakukan CEO Elon Musk dalam mendirikan perusahaan roket SpaceX pada 15 tahun lalu. Musk adalah satu dari empat miliuner yang menginvestasikan sebagian besar kekayaannya untuk mewujudkan langkah kolonisasi Mars dan eksplorasi angkasa.

Selain Musk, ada Jeff Bezos, Paul Allen, dan Richard Branson. Keempatnya pun telah menginspirasi miliuner lain untuk berinvestasi di industri luar angkasa. Mereka membayangkan menciptakan kesempatan bisnis di ruang angkasa, mengontrol satelit, bahkan mengirim manusia ke bulan hanya untuk kebutuhan wisata.

Sejak tahun 2000, startup angkasa sendiri sudah menarik investasi lebih dari USD16,6 miliar. Ada lebih dari 140 perusahaan yang rata-rata bergerak di bidang satelit. Tahun lalu saja, ada USD2,8 miliar dana diberikan kepada 43 startup luar angkasa.

CEO Amazon, Jeff Bezos pun sudah mendirikan Blue Origini sejak 16 tahun lalu untuk merancang roket yang dapat dipakai berwisata angkasa atau menjalankan misi luar angkasa lainnya. Ia bahkan rela menjual sahamnya di Amazon senilai USD1 miliar untuk mewujudkan rencana itu.

Lalu pendiri Microsoft, Paul Allen, lewat Stratolaunch Systems membuat pesawat dengan bentang sayap terbesar di dunia. Tujuannya untuk mengangkut roket hingga tepian angkasa atau mengirim satelit kecil ke orbitnya.

Sedangkan Richard Branson sudah membuka wisata angkasa lewat Virgin Galactic yang setiap kursinya berharga USD250.000. Satu buah pesawat berisi enam orang dan dua pilot siap meroket ke luar angkasa. Musk, Bezos, Branson, dan Allen seolah menghidupkan kembali industri luar angkasa.

Awalnya, para miliuner sebenarnya enggan menginvestasikan uang mereka ke industri ini, tetapi sekarang mereka berebut melakukannya. Musk mendirikan SpaceX bermodal USD100 juta dari uangnya sendiri setelah menjual PayPal.

SpaceX kini memiliki valuasi USD12 miliar dan menjalin kontrak miliaran dolar dengan NASA untuk mengirim astronot dan berbagai perlengkapan lain ke Stasiun Luar Angkasa Internasional. SpaceX juga menjalin kontrak dengan berbagai perusahaan swasta untuk meluncurkan satelit komersial.

Perusahaan Blue Origin milik Bezos sudah melakukan tes terhadap roket terbaru mereka, New Shepard, yang dapat digunakan kembali. Walau sudah sukses mengangkasa, roket tersebut belum melakukan kegiatan komersial.

Bahkan, roket terbaru yang sedang dirancang New Glenn dikabarkan lebih besar dan lebih kuat dibandingkan Falcon Heavy milik SpaceX. Falcon Heavy masih menjadi roket terbesar pada abad ini. Nama roket Bezos diinspirasi dua dari tujuh astronot NASA, yakni Alan Shepard dan John Glenn.

Pada 2015, Google dan Fidelity berinvestasi USD1 miliar di SpaceX. Walau investasi besar terus berdatangan di perusahaan-perusahaan luar angkasa itu, belum ada satu pun yang berencana melantai di bursa saham. SpaceX yang paling mungkin IPO, tapi Elon Musk tidak ingin perusahaannya itu go public.

Yang jelas, dengan teknologi saat ini, ada banyak startup yang menawarkan berbagai solusi terkait bisnis luar angkasa. Misalnya, OneWeb, yang berencana meluncurkan satelit pertama dari total 700 satelit untuk menyediakan internet kecepatan tinggi dan moda komunikasi lainnya.

Perusahaan itu didukung Richard Branson, Qualcomm, SoftBank, Airbus, dan Coca Cola. Investor mengucurkan dana USD1,2 miliar ke OneWeb pada 2016. Perusahaan lainnya, Rocket Lab, mengembangkan roket dari nol yang di desain untuk meluncur ke luar angkasa dengan biaya terjangkau.

Targetnya, dalam setahun bisa meluncurkan 50 roket. Sebagai perbandingan, selama 2016 ada 22 peluncuran roket di Amerika dan 82 secara global. Startup lainnya adalah Planet yang membuat satelit kecil. Saat ini ada 100 satelit buatan mereka yang mengorbit.

Beberapa ada yang begitu kecil hingga seukuran kotak sepatu. Planet Labs dapat memotret seluruh bumi dalam waktu 24 jam, menyediakan data yang dapat digunakan untuk memecahkan masalah komersial, lingkungan, dan kemanusiaan. (NVR – dari berbagai sumber)

No More Posts Available.

No more pages to load.