Mencari Penyanyi Dangdut Di Amerika

by -2,593 views

dangdut amerikaBicara soal musik dangdut yang disebut sebagai titisan musik gambus dari timur tengah, tabla-nya dari India serta musik melayu ini, sangat menarik. Pasalnya, musik dangdut yang dianggap musik asli Indonesia, sejak awal kemunculannya hingga kini, masih dianggap sebagai musik kampungan dan pinggiran. Karena sebagian besar penggemar musik dangdut adalah masyarakat kelas bawah yang berekonomi lemah.

Tapi siapa sangka, lambat laun kehadiran musik dangdut yang terpinggirkan terbantahkan. Kini dangdut bukan lagi menjadi musik rakyat yang marginal, sejak revolusi dangdut yang yang dikembangkan Raja Dangdut Rhoma Irama pada dasawarsa 70-80’an, musik dangdut terus berkembang dan bahkan diminati masyarakat dunia. Saat ini tak kurang dari 70 negara mempelajari musik yang satu ini. Seperti, Andrew Noah Weintraub, 50 tahun, profesor musik dari University of Pittsburgh, Amerika Serikat, sampai meluncurkan sebuah buku “Dangdut. Musik, Identitas dan Budaya Indonesia”.

Bahkan ada catatan menarik dan seru mencari penyanyi dangdut di Amerika. Lewat press-release yang disampaikan ke redaksi musiclive, setelah beberapa tahun vakum, sejak digelar tahun 2007-2008, Dangdut in America 2014 yang digelar, menurut Ningrum Spicer, selaku Produser Dangdut in America, tidak menyurutkan animo peserta untuk menjajal kemampuannya, bahkan cenderung mengalami peningkatan jumlah peserta. Berikut cerita menarik selengkapnya yang disampaikan Ningrum dibawah ini;

Abdul Wali, tampak tersenyum senang ketika Ani Hartini, salah satu juri kompetisi Dangdut In Amerika memujinya karena mampu mengikuti cengkokan nada suara dangdut Melayu yang dilantunkannya. “You are great”, kata Ani yang mantan vokalis group dangdut, Ken Dedes. “I wish I could be in the final”, ujar Abdul, warga Amerika yang pernah lolos audisi program American Idol. Abdul adalah salah satu penyanyi dari sekitar 50 peserta audisi Dangdut In America yang digelar di kota New York, Philadelphia, Washington DC dan Wilmington (Delaware). Mereka datang dari berbagai latar belakang dan profesi, mulai dari Mahasiswa sampai Penyanyi Hip-hop.

Sementara, Sania, penyanyi Indonesia yang juga menjadi juri memuji Freddy Kim, mahasiswa keturunan Korea yang mampu menyanyikan lagu-lagu bernada tinggi. “Fredy, you have a great talent. Have you heard about Dangdut before?”, tanya Sania. “No, but I would like to learn”, jawab Fredy sambil tersenyum. Sania juga beberapakali naik panggung mengajak peserta untuk bergoyang dangdut. “Saya salut usaha mereka menyanyi dangdut, keren banget,” tambah Sania.

Inilah suasana Audisi Dangdut In America yang berlangsung selama bulan April di pantai Timur Amerika Serikat. Dangdut In America adalah sebuah ajang kompetisi menyanyi untuk mencari penyanyi Dangdut asal Amerika. “Amerika dikenal mempunyai berbagai genre musik, seperti Hip-hop, Jazz, Blues dan Country. Lalu muncul pengaruh musik dari Latin dari negara-negara Mexico, Brazil dan Argentina. Nah sekarang giliran musik Dangdut dari Indonesia yang akan tampil di Amerika,” ujar Rissa Asnan, promotor dan produser musik dari NSR Entertainment di Delaware yang mempunyai ide kompetisi ini sejak tahun 2007.

Konsep Dangdut In America ini pernah mendapat penghargaan dari Museum Rekor Indonesia atau MURI. Termasuk dengan dirilisnya album Dangdut In America pertama dengan penyanyi Arreal Tillghman. Selain Sania dan Ani, juri lainnya adalah Catherine Short de Arce, penyanyi opera dan pengajar musik terkenal dari Delaware yang sedang mendalami musik dangdut, termasuk Rissa Asnan sendiri.

Rencananya, kompetisi ini akan digarap menjadi program acara televisi dengan format reality show, berdurasi 60 menit dan ditayangkan di stasiun televisi nasional, mulai 27 April 2014 di TVRI, pukul 20.00 s/d 21.00 WIB. “Ini adalah program yang unik dan menarik. Belum pernah ada distasiun televise manapun. TVRI mendukung program ini agar musik dangdut semakin dikenal di Amerika,” ungkat Tuty Purwaningsih, Programmer Kerjasama Produksi dan Siaran Luar Negeri TVRI.

Sedangkan untuk produksi televisi, dilaksanakan oleh team Voice Of America (VOA) Indonesia yang sering memproduksi berbagai program Pop-Culture untuk stasiun televisi Indonesia, dengan Sutradara, Naratama. “Ini tantangan baru dan seru, menyutradarai program musik dangdut dengan penyanyi orang-orang Amerika yang tidak mengerti bahasa Indonesia. Kita akan menggunakan desain produksi serealitis mungkin, tanpa ada rekayasa,” kata Naratama, yang pernah menyutradarai berbagai progam reality dan musik seperti Joe Millionaire Indonesia, Klakustik, VOA POP NEWS, VOAcoverage in American Music Awards, Country Music Awards dan Red Carpet- Piala Oscar di Hollywood, LA. “Kita syuting dengan sistem Multikamera. Dan tantangan yang paling berat, ya, menjelaskan apa itu musik dangdut kepada para peserta Amerika,” tambah Naratama.

Lalu untuk final akan dilangsungkan di Sigma Studio, Philadelphia. Studio ini sering dipakai rekaman oleh musisi papan atas seperti Billi Joel, Justin Timberlake dan Miley Cyrus. Untuk menentukan juara, para finalis diwajibkan untuk menyanyi dangdut dengan bahasa Indonesia. Final sudah diselenggarakan, dan pemenangnya akan dibawa ke Indonesia untuk tampil bersama musisi Dangdut Papan Atas di TVRI.|Edo (Foto istimewa)

Leave a Reply

No More Posts Available.

No more pages to load.