Saat ‘Babe’ Mampu Kejutkan Ajang DC Fashion Week 2018

by -3,042 views

JAKARTA, VoiceMagz.com – Sebuah kejutan terjadi di ajang bergengsi DC Fashion Week di Washington DC, Amerika Serikat (AS) yang digelar 25 Februari 2018 lalu.

Kejutan itu datang dari rancangan desainer asal Indonesia, Anna Mariana. Dari deretan 10 perancang internasional yang tercatat ikut sesi International Couture Collections Show hanya Anna Mariana satu-satunya sebagai perwakilan dari Indonesia menampilkan koleksi busana unik yang dirancang khusus dari kain tradisional tenun dan songket handmade dengan kreasi terbaru yang diberi nama ‘Babe’.

“Koleksi busana yang saya tampilkan di DC Fashion Week itu semuanya saya ciptakan khusus. Alhamdulillah dapat atensi yang luar biasa,” jelas Anna Mariana saat menggelar syukuran di House of Marsya, Jakarta, Rabu (21/3).

Dihadapan sekitar 400 tamu undangan yang terdiri dari pengamat fashion, fashion bloggers, pemilik gerai toko busana, fashion stylist hingga selebriti dan sosialita di Franklin Square 1315 K St NW, Washington DC, 20 busana eksklusif rancangan Anna yang diperagakan peragawati internasional ini bersaing dengan hasil rancangan enam perancang dari US, Senegal, Prancis dan Ukraina.

Rancangan yang merupakan penggabungan antara design motif tenun dan songket ciri khas Bali dan Betawi ini langsung dirancang Anna lewat penentuan warna dan desain khusus pada motif-motif kain tenun dan songket ini.

“Model busananya sendiri sengaja disesuaikan dengan selera orang Barat yang gemar dengan model baju terbuka dan kasual,” jelas Anna.

Pada motif Bali, Anna menempatkan motif bercorak poleng, yakni motif kain tenun kotak-kotak berwarna hitam putih (Rwabhineda) yang sangat popular dan menjadi ikon dalam kehidupan masyarakat Bali.

Menurutnya, dalam paham masyarakat Hindu di Bali, Rwabhineda adalah sebuah filosofi yang melambangkan dua sifat yang saling bertolak belakang. Seperti hitam putih, baik buruk, panjang pendek, kaya miskin dan sebagainya.

Sementara untuk nuansa tenun dan songket Betawi yang merupakan mahakarya yang dirancangnya, Anna mendesain motif-motif dengan ikon terkenal dari Betawi seperti Monas, Ondel-ondel dan sebagainya.

Anna menggunakan benang dalam warna khusus merah putih untuk menenunnya. Ini sebagai perlambang warna bendera Merah Putih sebagai ciri khas Indonesia. Selain itu, muncul pula sentuhan motif burung Garuda yang merupakan lambang negara dan dikenal juga sebagai simbol Bhineka Tunggal Ika.

“Saya berusaha paham dengan apa yang harus disuguhkan di ajang fashion bergengsi di luar sana. Ikon-ikon nasional dan kebangsaan kita harus juga diperlihatkan,” ucap desainer yang selama ini dikenal sebagai pelopor dan pengabdi budaya kain tenun dan songket Indonesia ini.

Melalui balutan busana bernuansa tenun dan songket tradisional handmade khas Bali dan Betawi ini, Anna juga berharap dapat berbagi pengetahuan sekaligus menjadi ajang promosi budaya Indonesia kepada audiens yang hadir, khususnya publik di Washinton DC.

Dan harapannya itu tak sia-sia. Ia mendapat apresiasi yang bagus dari tamu undangan yang hadir. Bahkan ia diminta mempersiapkan rancangannya di ajang lebih besar lagi yakni New York Fashion Week (NYFW) yang akan digelar September mendatang.

“Saya bersemangat untuk terus mencipta, dan melahirkan karya karya terbaru, seperti halnya menciptakan tenun dan songket Betawi yang belum pernah diciptakan nenek moyang kita sebelumnya,” ucapnya.

Bicara soal produk serupa dari negara lain yang menjadi pesaing karya-karya dari Indonesia, Anna mengklaim jika tak ada yang bisa menyamai hasil batik dan tenun asal Indonesia.

“Bahkan dari China sekalipun. Mereka kan spesialis printing. Dan kita satunya-satunya yang homemade,” tandas Anna.

Kedepannya, ia akan terus berupaya tanpa kenal lelah memperkenalkan dan mempromosikan tenun dan songket sebagai produk budaya khas Indonesia ke tingkat internasional.

“Saya yakin, tenun dan songket Indonesia bisa terus mendunia dan Go International. Untuk itu, saya berupaya menjalin kemitraan di luar negeri yang secara kebetulan meminta saya untuk menjual produk handmade khas Indonesia ini ke seluruh mancanegara,” tukas Anna.

Ia pun punya catatan yang menarik terkait ajang New York Fashion Week (NYFW). Diceritakannya, saat ia bertemu dengan produser/panitia NYFW yang sempat di banned oleh para desainer luar untuk tidak lagi menghadirkan fashion designer dari Indonesia, pasca Annisa Hasibuan terkena kasus hukum.

“Mereka bicara terus terang, sebelum ketemu saya, ada kekhawatiran untuk menampilkan kembali desainer Indonesia, yang menurutnya dari sisi karya sebenarnya bagus-bagus. Saya cuma bilang bahwa ini hanya musibah, dan meyakinkan mereka banyak desainer Indonesia yang masih bagus. Alhamdulillah, saya akhirnya dipercaya untuk berada NYFW sebagai wakil Indonesia, dan dalam waktu dekat mereka akan ke Indonesia untuk berkunjung melihat-lihat hasil karya saya,” cerita Anna. (NVR)

No More Posts Available.

No more pages to load.